Jember (beritajatim.com) – Bonek Writers Forum (BWF), salah satu kelompok suporter Persebaya yang bergerak di bidang literasi sepak bola, mendukung adanya regulasi dan perbaikam infrastruktur kompetisi di Indonesia. Dukungan ini merupakan bagian dari refleksi terhadap peristiwa kelabu di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Sabtu (1/10/2022) malam.
Ratusan orang meninggal dunia dalam peristiwa itu. Ini membuat BWF meminta PSSI bertanggungjawab atas peristiwa tersebut, karena insiden yang menyebabkan korban luka dan jiwa tak hanya terjadi sekali dua kali di Indonesia.
Menurut BWF, perlu ada standardisasi prosedur penanganan massa sepakbola oleh petugas keamanan dengan mengikuti aturan FIFA yang tak memperkenankan penggunaan gas air mata untuk mengatasi ricuh penonton di dalam stadion.
BWF juga meminta agar prosedur mitigasi bencana di stadion diberlakukan, seperti adanya kewajiban announcer pertandingan untuk menyebutkan titik kumpul dan arah evakuasi sebelum dan sepanjang laga untuk mengantisipasi kericuhan. Untuk itu, seluruh stadion harus berkursi atau all seater stand.
Tidak boleh ada lagi terrace stand atau tribun beton, karena dengan demikian jumlah penonton di stadion bisa ditentukan dengan akurat. Jumlah penonton berkaitan dengan jumlah petugas keamanan yang harus disediakan.
[berita-terkait number=”3″ tag=”persebaya”]
Panitia pelaksana hendaknya tidak mencetak tiket dengan jumlah yang melebihi kapasitas stadion. BWF memandang perlu ada kuota lima persen kursi kosong untuk proses evakuasi jika terjadi bencana.
Salah satu antisipasi kerusuhan ini adalah dengan menggelar pertandingan-pertandingan bertensi tinggi pada sore hari atau kalau perlu tanpa penonton.
“Pembatasan jam tanding paling larut pukul tujuh malam, sehingga penonton tidak pulang kemalaman mengingat sistem transportasi di Indonesia belum sebagus sistem transportasi di Eropa yang memungkinkan pertandingan digelar larut malam,” kata BWF melalui Iwan Iwe.
BWF meminta wasit harus menghentikan pertandingan saat dari tribun ada nyanyian provokatif dan rasis dengan lirik penuh kebencian. Mereka juga mendukung pemerintah menerbitkan Undang-Undang Suporter yang mengatur dan melindungi pendukung sepak bola saat menyaksikan pertandingan di stadion, sebagaimana Football Spectators Bill di Inggris pada masa Perdana Menteri Margareth Thatcher.
BWF berduka atas tragedi di Kanjuruhan. Mereka berdoa untuk para korban dan berharap pada masa mendatang tidak ada lagi kejadian seperti ini. [wir/beq]






