Jombang (beritajatim.com) – Pagi merambat menuju siang. Suara gamelan memecah kesunyian di Dusun Mojokerep, Desa Genenganjasem, Kecamatan Kabuh, Jombang, Jawa Timur, Minggu (15/5/2022). Suasana itu semakin sakral dengan asap dupa dan kemenyan. Asap putih itu bergulung-gulung menebarkan aroma wangi yang mistis.
Gerbang pintu masuk dusun terdapat gapura buatan dengan tulisan ‘Paguyuban Damar Panuluh’. Ada juga umbul-umbul dengan tulisan serupa. Warnanya hitam. Di tengah jalan desa, sebuah tenda berdiri kokoh memanjang. Dilengkapi juga dengan panggung berukuran besar.
Di panggung itu, pakeliran (layar) wayang kulit dibentangkan. Wayang kulit berjajar rapi menancap pada batang pisang yang ditidurkan. Di depan pakeliran nampak gamelan dan para penabuhnya. Semua semkain klop dengan hadirnya para pesinden.
Semakin siang, undangan yang datang semakin banyak. Mereka duduk lesehan di bawah tenda. Para undangan adalah anak-anak yang didampingi oleh orangtuanya. Sebagian besar mengenakan baju warna putih. Anak-anak itulah yang hendak mengikuti ruwatan sukerta, sebuah tradisi kuno pembersihan diri.
Sejumlah warga yang didapuk sebagai panitia terlihat sibuk. Mereka mengenakan blangkon, baju beskap, serta kain sarung. Suara gamelan terus mengalun. Suara merdu pesindem melengkapinya. Sejurus kemudian, tradisi ruwatan sukerta dibuka.
Ditandai dengan penyerahan gunungan wayang dari Wakil Bupati Jombang Sumrambah kepada dalang Ki Kuswo Sikin. Selanjutnya, pagelaran wayang dengan lakon Murwokolo dimulai. Dengan lincah, dalang asal Kecamatan Sumobito ini memainkan wayang. Seiring dengan itu, anak-anak yang mengikuti ruwatan menyaksikan lakon tersebut dari awal sampai akhir.

Dalam lakon tersebut dikisahkan Bhatar Kala (raksasa jahat) sedang memburu anak-anak dengan kategori sukerta untuk dimangsa. Sukerta adalah orang yang belum sempurna. Sehingga menjadi santapan raksasa jahat tersebut. Karena itu orang yang menyandang sukerta harus diruwat, yakni dibersihkan. Jika tidak diruwat, orang tersebut akan menjadi mangsa Bhatara Kala.
Menurut kepercayaan Jawa, beberapa anak sukerta yang butuh diruwat antara lain; Ontang-anting (anak tunggal), Pancuran kapit sendang (tiga anak, laki-laki di tengah), Sendang kapit pancuran (tiga anak, perempuan di tengah), serta Uger-uger lawang (dua anak laki-laki).
Selain itu, Kembang sepasang (dua anak perempuan), Kendhana kendhini (dua anak, laki-laki dan perempuan) Pendhawa (anak lima, laki-laki semua), Mancalaputri (anak lima, perempuan semua), serta Anak kembar. “Acara ruwatan massal ini bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang,” ujar Sekretaris Paguyuban Damar Panuluh Jombang, Sukri.
[berita-terkait number=”5″ tag=”tradisi”]
Sukri mengungkapkan, orang yang terlahir dengan sukerta, dalam kepercayaan Jawa, harus menjalani ruwatan untuk membebaskan diri dari kekuatan buruk yang mengelilingi dirinya. Agar diajuhkan dari bala dan musibah. Jika tidak, mereka akan mengalami kesulitan hidup.
Di tengah ritual pagelaran wayang, anak-anak yang mengikuti ruwatan ini rambutnya disisir oleh orangtua. Jadilah aksi menyisir massal dilakukan di bawah tenda. Setelah wayang usai, mereka maju satu persatu dengan didampingi orangtua untuk ngrucat kupat luar (menarik ketupat tanpa isi). Ritual ini juga didampingi oleh Ki Dalang sejati.
Kemudian dilanjutkan dengan ‘potong rikmo‘ atau menggunting rambut. Usai menggunting rambut para peserta ruawatan mengikuti siraman air kembang. Satu per satu mereka berjajar. Kemudian air yang ada di dalam tempat khusus diambil menggunakan gayung dan disiramkan ke tubuhnya.
Saat ritual siraman, Bupati Jombang Mundjidah Wahab dan Wabup Sumrambah menjadi orang yang menyiramkan air kembang ke tubuh anak-anak. Semuanya berlangsung sakral. Terakhir, potongan rambut masing-masing anak dijadikan satu dengan baju. Barang-barang tersebut dilarung ke sungai. Itu sebagai simbol untuk membuang sial.
Sukri mengungkapkan bahwa ritual ruwatan itu digelar untuk melestarikan kebudayaan Indonesia agar terus hidup di masyarakat. “Yang mengikuti ruwatan massal ini 204 anak. Selain dari Jombang, juga ada dari Lamongan, Nganjuk, Bojonegoro, serta Mojokerto,” ujarnya.

Salah satu peserta yang mengikuti ruawatan adalah Eko Rendi Setiawan (19), warga Sumbergndang, Kecamatan Kabuh. Eko adalah anak dengan kategori ‘ontang-anting’. Dia mengikuti seluruh prosesi ruwatan dari awal hingga akhir. Eko datang diantar kedua orangtunya, Kemat (53) dan Sartini (45).
Kemat mengatakan, mengikuti ruwatan secara massal lebih murah ketimbang menggelar ruwatan secara mandiri. “Kalau ruwatan massal bayarnya Rp125 ribu. Ini murah, ketimbang ruwatan mandiri yang biayanya bisa di atas Rp3 juta,” kata Kemat.
Kemat mengatakan, dia memiliki anak semata wayang atau ontang-anting. Nah, agar anak tersebut terhindar dari bala dan musibah makan diikutkan ruwatan sukerta. “Mudah-mudahan anak saya dijauhkan dari segala bala serta musibah. Karena anak saya masuk dalam kategori sukerta,” pungkas Kemat. [suf]






