Mojokerto (beritajatim.com) – Dua mantan narapidana kasus terorisme (napiter) asal Desa Betro, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto Sutrisno-Lutfi Teguh Oktafianto mendirikan Yayasan Rumah Moderasi Mojokerto. Berkonsep podcast, rumah moderasi satu-satunya di Indonesia ini diharapkan menjadi percontohan.
Hal ini ditegaskan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar saat meresmikan Yayasan Rumah Moderasi Mojokerto, Kamis (17/2/2022). Yayasan Rumah Moderasi Mojokerto dinilai bagus dalam rangka mendidik, mencerdaskan, mencerahkan generasi muda dan masyarakat pada umumnya.
“Terutama bagaimana konsep moderasi itu dikembangkan dan mengapa pentingnya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang beragam ini memerlukan semangat bertoleransi. Jadi rumah moderasi bisa menjadi sarana untuk melahirkan sikap, perilaku bertoleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang majemuk,” ungkapnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”mojokerto”]
Mantan Wakil Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri ini, menilai Yayasan Rumah Moderasi Mojokerto menjadi gagasan yang bagus. BNPT mengapresiasi Yayasan Rumah Moderasi Mojokerto dan dipromosikan ke kabupaten/kota lainnya di Indonesia sebagai percontohan.
“Karena narasi-narasi yang bersifat moderasi sangat diperlukan di tengah perubahan dunia yang banyak mengembangkan konsep intoleransi termasuk juga penyebarluasan paham radikal terorisme. Jadi ini adalah sebuah kontra narasi untuk membuktikan kepada seluruh masyarakat, baik yang ada di dalam negeri dan luar negeri,” ujarnya.
Bahwa, tegas lulusan Akpol 1988 ini, negara Indonesia cinta dengan toleransi. Negara Indonesia mendukung adanya sebuah moderasi di tengah-tengah keberagaman baik dari suku, agama, ras dan golongan. Rumah moderasi tersebut diharapkan bisa maju dan menjadi percontohan bagi masyarakat lain yang ada di Indonesia.
“Ini baru pertama dalam konsep podcast yang dikembangkan beliau, mitra diradikalisasi yang bekerjasama dengan kita. Sangat berharap, adanya keinginan dari berbagai pihak. Jadi bukan dari mitra binaan saja, dari siapa saja. Dari mitra-mitra kita lainnya, tokoh-tokoh masyarakat yang cinta dengan bangsa ini,” harapnya.
Yakni untuk bisa melakukan langkah-langkah moderasi sehingga tidak terbangun sebuah perilaku eksklusivisme adalah masyarakat. Namun bagaimana bisa menciptakan masyarakat inklusif, yang menghargai perbedaan, membangun semangat kerukunan dan menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
[berita-terkait number=”4″ tag=”umkm”]
“Ini propaganda global, jadi tidak bisa kita hanya lihat dari spektrum Indonesia saja. Global. Jadi ini dapat dikatakan sebuah propaganda yang berlangsung setiap hari, orang mengembangkan konsep intoleransi dilanjutkan dengan radikal terorisme. Memang tidak semua orang yang intoleran itu jadi teroris, tetapi terus jadi benih. Oleh karenanya kita harus bergerak dulu agar intoleransi itu tidak menjadi budaya bangsa kita,” paparnya.
Masih kata mantan Kapolda Papua ini, karena budaya Bangsa Indonesia adalah bertoleransi. Dengan konsep podcast di Yayasan Rumah Moderasi Mojokerto ditambah dengan narasi-narasi yang dikembangkan untuk bisa menangkal penyebarluasan intoleransi, radikalisme yang dapat berlangsung setiap hari.
“Maka perlu kewaspadaan dini kita semua, jangan sampai menerima mentah-mentah informasi yang kontennya intoleran, radikalisme secara begitu saja tanpa memfilter. Karena ini bisa membahayakan alam pikiran masyarakat, baik itu secara individu maupun kolektif yang bisa merubah perilaku menjadi destruktif dikarenakan salah dalam menilai, menyingkapi informasi yang mengajarkan karakter intoleran itu,” urainya.
Meski Mojokerto pernah menjadi sasaran aksi terorisme, namun ia melihat saat ini kondusifitas semakin bagus termasuk Jawa Timur. Menurutnya, indeks risiko terorisme di 2021 melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Hasil survey, target RPJMN di angka 54 baik sebagai pelaku dan target turun jauh yakni di angka 52 dan 30.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pemkab-mojokerto”]
“Jadi ini adalah kerja semua, seluruh masyarakat untuk melakukan perlawanan membangun ketahanan ediologi masyarakat kita dengan terus meningkat semangat persatuan dan kesatuan. Jadi ini kerja kolektif yang bagus termasuk di Mojokerto, di Jawa Timur dan hari ini kita memang mempersempit ruang mereka-mereka yang mengusung ideologi, terorisme ini. Jadi kanan, kiri, dia mantok, itu adalah harapan kita,” tuturnya.
Sementara itu, Pembina Yayasan Rumah Moderasi Mojokerto, Sutrisno mengatakan, ia ingin membuat wadah dengan membuat yayasan untuk bisa berdakwah keluar. “Karena kami lebih terorganisir, lebih legal dengan adanya Rumah Moderasi. Rasa takut itu ada tapi saya yakin teman-teman (napiter, red) saya tidak tega berbuat jahat terhadap saya,” tegasnya. [tin/but]








