Surabaya (beritajatim.com) – Unggahan provokatif yang menyebut Jawa Timur bakal diterjang kerusuhan massal mendadak bikin geger dan meresahkan warga di media sosial. Narasi liar tersebut mengaitkan aktivitas peningkatan pengamanan fasilitas umum di Jatim dengan gejolak politik di luar negeri.
Kepanikan publik yang terlanjur meluas membuat Kapolda Jawa Timur, Inspektur Jenderal Polisi Nanang Avianto, akhirnya angkat bicara secara terbuka untuk menghentikan bola liar tersebut.
Nanang menegaskan bahwa narasi horor yang beredar luas di platform digital sama sekali tidak berbasis fakta di lapangan. Ia memastikan kondisi keamanan di seluruh wilayah Jawa Timur hingga saat ini dalam kondisi aman dan terkendali.
“Saya sampaikan secara terbuka, berdasarkan fakta di lapangan tidak ada satu pun indikasi yang membenarkan narasi itu. Tidak ada ancaman kerusuhan di Jawa Timur,” kata Nanang saat membuka Dialog Kebangsaan di Surabaya.
Isu menyesatkan ini ternyata berawal dari misinformasi yang sengaja diembuskan oleh pihak tak bertanggung jawab. Aktivitas rutin aparat, seperti pemeliharaan gedung pemerintahan hingga peningkatan pengamanan fasilitas umum, dipelintir dan disepadankan dengan konflik berdarah di negara lain.
Dalam forum bertema “Merawat Bhinneka Tunggal Ika di Tengah Polarisasi Ruang Digital” tersebut, jenderal bintang dua ini mengingatkan betapa bahayanya arus deras teknologi jika disalahgunakan. Algoritma media sosial kerap membesarkan disinformasi, berita bohong, hingga ujaran kebencian yang berpotensi memecah belah masyarakat.
Menanggapi fenomena ini, Polda Jatim menyatakan siap pasang badan untuk memfasilitasi serta mengamankan seluruh kegiatan warga, sekaligus memastikan bahwa gesekan fisik akibat perbedaan pandangan tidak boleh terjadi.
“Polri siap memastikan perbedaan pilihan diselesaikan di meja musyawarah dan tidak merugikan masyarakat luas,” ucap Nanang.
Guna meredam potensi panas di dunia maya, Kapolda mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk tidak mudah menelan mentah-mentah kabar yang berkeliaran di linimasa. Warga diminta menyaring setiap informasi dan tidak menjadi bagian dari rantai penyebaran provokasi.
Pentingnya menanamkan kembali nilai-nilai Pancasila dan semangat “Jogo Jatim”—sebuah gerakan bersama menjaga kedamaian Jawa Timur—menjadi prioritas utama, khususnya bagi generasi muda yang paling aktif mengonsumsi informasi digital.
Langkah ini diharapkan mampu mengubah ruang maya yang sebelumnya menakutkan dan penuh polarisasi, menjadi sarana perekat persatuan warga Jawa Timur. [uci/ian]






