Magetan (beritajatim.com) – Perwakilan pedagang Sarangan yang tergabung dalam Sarangan Street Food mengeluhkan PPKM Level 4. Lantaran, wisata Sarangan yang sampai kini harus ditutup. Padahal, mereka tak hanya terhimpit kebutuhan hidup sehari–hari tapi juga tagihan listrik dan cicilan ke bank.
Mereka hampir mengibarkan bendera putih untuk menyatakan kalau mereka menyerah terhadap keadaan. Pun, menurut mereka, tak ada solusi yang pas untuk mengurai masalah warga Sarangan.
“Sarangan bukan PPKM, tapi lockdown,’’ terang Wahyudi, salah satu pengusaha SSF saat ditemui di lokasi, Minggu (8/8/2021).
Alasan Wahyudi menyebut lockdown karena sama sekali tak ada pemasukan. Selain itu, lokasi wisata Sarangan yang berbatasan langsung dengan permukiman membuat masyarakat sekitarnya tak bisa mendapatkan penghasilan.
‘’Ada 1.500 lebih pelaku wisata Sarangan yang menggantungkan hidupnya di aktivitas wisata. Kalau seperti ini terus kami tidak bisa bertahan. Kami butuh solusi tentunya. Minimal kami bisa biayai kehidupan sehari–hari,’’ katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”magetan”]
Pihaknya merasa diberi harapan palsu. Lantaran, PPKM yang selalu diperpanjang. Sementara, mereka terlanjur berharap PPKM segera dilonggarkan.
‘’Kalau diperpanjang terus bagaimana? Tidak ada pemerintah yang mau menjamin kami,’’ katanya.
Hal serupa tak hanya disuarakan oleh pelaku kuliner saja. Pengusaha souvenir di sekitar Sarangan juga memberikan suara yang sama. Mereka bingung tidak bisa melakukan mata pencaharian.

‘’Ini lebih parah ketimbang Lockdown di tahun 2020 lalu. Dulu masih bisa bertahan, tapi saat ini kan kondisi belum benar-benar pulih tapi harus lockdown lagi,’’ kata Sukartini, salah seorang penjual souvenir.
Pengusaha hotel lantas mengeluhkan tak ada pemberitahuan saat pemberlakuan PPKM. Padahal, banyak pesanan dan bookingan dari tamu – tamu.
‘’Dan itu yang mempengruhi nama baik hotel kami. Padahal, kami sudah mencoba taat pada pemerintah. Mau bagaimana lagi,’’ kata Irvan Dwi Chandra salah seorang pengusaha hotel. [fiq/but]






