Surabaya (beritajatim.com) – Sebanyak 11 mahasiswa non-Muslim berhasil meraih predikat lulus sangat memuaskan pada wisuda ke-22 Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa). Pencapaian ini membuktikan kualitas akademik berjalan seiring dengan iklim toleransi di lingkungan kampus.
Pada wisuda kali ini, Unusa mengukuhkan sebanyak 1.038 wisudawan. Dari jumlah tersebut, terdapat 14 mahasiswa non-Muslim dan 78,6 persen di antaranya mencatat prestasi tinggi.
Kondisi inklusif ini dirasakan langsung oleh para mahasiswa. Lulusan S1 Kebidanan asal Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Maria Dolorosa Gale, menceritakan pengalamannya menjalani perkuliahan.
“Di sini kami diperlakukan adil, baik yang non-Muslim maupun Muslim. Semuanya diperlakukan sama,” kata Maria, Selasa (29/9/2026).
Maria lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,57. Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Puskesmas Riung NTT ini menempuh profesi bidan sambil bekerja dari daerah asalnya secara daring.
“Tidak ada kendala sama sekali. Orang tua justru mendukung penuh saya kuliah di Unusa meskipun ini kampus Islam,” ungkapnya.
Hal senada dialami Meylani Fernanda Bessie, wisudawan beragama Kristen Protestan asal Kupang. Ia pernah mendapat kesempatan memimpin doa sesuai ajaran agamanya sebelum kelas dimulai.
“Pengalaman paling mengesankan adalah ketika saya diminta memimpin doa sebelum memulai perkuliahan,” kata mahasiswi kelas Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) tersebut.
Sementara itu, Rektor Unusa, Prof Tri Yogi Yuwono, mengingatkan lulusannya untuk menjaga adab dan empati saat kembali terjun ke masyarakat.
“Teknologi tidak akan pernah bisa menggantikan sentuhan hati manusia, rasa empati, dan solidaritas sosial,” tegas Tri Yogi.
Ia meminta para alumni memadukan profesionalisme dengan integritas moral. Sebab, kata dia, lingkungan kerja membutuhkan karakter kuat, kedisiplinan, dan sikap saling menghormati antar sesama manusia. [ipl/but]






