Surabaya (beritajatim.com) – Novel sejarah berjudul Bumi Lorosae karya Wahyuni Refi menjadi sorotan dalam acara bedah buku yang digelar di Auditorium T2 Fakultas Seni dan Bahasa, Universitas Surabaya (Unesa), Kamis (27/2). Acara ini dihadiri ratusan mahasiswa dan akademisi sastra yang tertarik mendalami kisah persahabatan dua negara, Timor Leste dan Indonesia, yang diangkat dalam novel tersebut.
Bedah novel ini mengungkap berbagai temuan sejarah bias di Timor Leste yang selama ini belum banyak diketahui publik, bahkan dunia internasional. Wahyuni Refi menjelaskan bahwa novel Bumi Lorosae lahir dari riset mendalam yang dilakukannya selama satu tahun tujuh bulan.
“Awalnya memang menggarap film persahabatan antara Timor Leste dan Indonesia. Saya stimultan turut melakukan riset dan catatan-catatan di buku diari selama perjalanan di Timor Leste satu tahun tujuh bulan, sejak tahun 2023,” ungkap Wahyuni.
Dalam novelnya, Wahyuni mengupas alasan di balik invasi Indonesia ke Timor Leste, namun tidak sekadar melihatnya dari perspektif politik atau militer. Novel ini menghadirkan sisi humanistik dengan menampilkan kisah cinta dan perjuangan di tengah konflik berdarah di Bumi Lorosae.
“Perang itu sesuatu hal yang tidak baik dan harus dihindari oleh negara manapun. Di setiap peristiwa ataupun konflik perang selalu ada cinta dan humanity yang harus dikedepankan. Itu termuat dalam novel ini,” tambahnya.
Sekilas Tentang Novel Bumi Lorosae
Novel Bumi Lorosae mengisahkan perjalanan tiga tokoh utama: Olimpia, seorang gerilyawan remaja perempuan yang gugur membela Timor Leste; Martino da Costa, adik Olimpia yang mencari kebenaran di balik kematian kakaknya; dan Widya Iswara, putri seorang tentara ABRI yang berjuang melawan stigma terhadap ayahnya.
Olimpia harus mengangkat senjata di usia belia untuk membela tanah airnya. Ia menyaksikan kekejaman perang, kehilangan orang-orang tercinta, hingga akhirnya meregang nyawa di medan pertempuran. Martino, yang dipenuhi kebimbangan dan amarah, berusaha mencari tahu siapa yang bertanggung jawab atas kematian kakaknya, bukan untuk membalas dendam, melainkan demi mencari kejelasan dan kedamaian bagi arwah sang kakak.
Di sisi lain, Widya Iswara mencoba membuktikan bahwa tidak semua tentara Indonesia di Timor Leste adalah pembunuh. Ia ingin menghadirkan perspektif lain dari sejarah, menunjukkan bahwa di balik seragam dan senjata, ada manusia dengan dilema dan perjuangan masing-masing.
Novel ini menghadirkan kisah tentang cinta, keadilan, dan pencarian makna di tengah konflik sejarah yang masih menyisakan luka bagi kedua negara. Bedah buku ini membuka diskusi yang lebih luas mengenai bagaimana literasi dan sastra dapat menjadi medium refleksi terhadap sejarah yang kompleks. [ram/ian]






