Surabaya (beritajatim.com) – Maraknya Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Non Prosedural di beberapa wilayah di Jawa Timur membuat Ketua Komisi E Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur angkat bicara. Perlu diketahui, dari data yang dihimpun Beritajatim.com, sebanyak 30 TKI dari Sampang pulang ke tanah air dalam kondisi meninggal dunia karena sakit dan kecelakaan kerja.
Dihubungi Beritajatim.com, Hikmah Bafaqih Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim mengatakan jika ia telah mendengar para TKI yang dideportasi dari Malaysia karena dianggap ilegal. Selain itu, dari data yang ia terima ada 13 TKI Non Prosedural asal Sampang yang meninggal di tanah Malaysia pada tahun 2022 ini.
“Sampai dengan bulan Juli 2022, tercatat 13 jenazah PMI unprosedural asal Sampang yg dipulangkan ke tengah keluarganya,” tegasnya, Kamis (11/08/2022).
[berita-terkait number=”5″ tag=”dprd-jatim”]
Ia merinci, dari 13 jenazah, 1 jenazah difasilitasi pemulangannya oleh Unit Pelaksana Teknis Pelayanan Dan Perlindungan Tenaga Kerja (UPT P2TK) Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Jawa Timur. Lalu, 9 jenazah dipulangkan oleh BP2MI/P4TKI Pamekasan, sedangkan 3 jenazah dipulangkan oleh keluarganya sendiri.
Menurut Hikmah, selain keselamatan TKI, ada hal yang harus diperhatikan yakni nasib ribuan TKI yang ditangkap dan harus dideportasi. Menurutnya, dinas terkait harus lebih perhatian dan menemukan solusi agar para TKI yang berangkat ke negara lain tidak melanggar ketentuan hukum.
“Yang kita sesali masih banyak yg tertangkap dan harus tinggal di penampungan. Seribu lebih dan secara bertahap telah menjalani masa hukuman sesuai dengan kesalahan, mereka dideportasi,” imbuhnya.
Ia lantas mempertanyakan kinerja dinas terkait yang bertanggung jawab untuk mengawasi dan mempunyai kewenangan untuk urusan ketenagakerjaan. Baginya, solusi dari permasalah izin menjadi TKI harus segera dicari.
“Pertanyaan besarnya kenapa kita tidak bisa mencegah warga kita untuk berangkat secara prosedural. Karena merepotkan banyak pihak. Kami harapkan daerah-daerah pengirim TKI non prosedural seperti Sampang, Pamekasan Jember itu lebih aware untuk turut serta melakukan pencegahan,” pungkasnya. (ang/kun)






