Lamongan (beritajatim.com) – Sebuah banner pemberitahuan yang berada di kawasan Makam Mbah Munshorif, Desa Sendangagung, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan hilang dari tempatnya. Diduga, hilangnya banner ini karena telah dicuri oleh seseorang.
Diketahui, Mbah Munshorif merupakan tokoh yang namanya mashur di wilayah Lamongan dan sekitarnya. Semasa hidupnya, Mbah Munshorif menjadi rujukan dan kerap dimintai pertimbangan oleh sejumlah lapisan dan tokoh masyarakat.
Mulai dari kiai, pejabat, hingga rakyat biasa pun banyak yang bertandang ke kediamannya untuk meminta saran dan petuahnya. Tak cukup itu, masyarakat setempat kala itu juga meyakini bahwa dawuh dan doa Mbah Munshorif sangat ampuh dan mustajab.
[berita-terkait number=”5″ tag=”pencurian”]
Selain menjadi sosok yang nyentrik, Mbah Munshorif juga merupakan salah satu ulama tasawuf yang mempunyai karangan sebuah kitab berjudul ‘Al-Bidaayatu Majallatu An-Nihaayat’.
“Banner yang dipasang di depan Makam Mbah Munshorif ini hilang. Banner ini dipasang sekira pukul 20.00 WIB, pada Jumat (10/6/2022) lalu, namun keesokan harinya banner sudah hilang dari tempatnya, dicuri,” ujar Akhmad Khafid, salah satu pembina dan pengurus Yayasan Guyup Rukun Lamongan, Sabtu (18/6/2022).
Khafid juga menjelaskan bahwa banner tersebut berisi pemberitahuan kepada anak didik Mbah Munshorif tentang adanya renovasi makam tersebut.
“Banner pemberitahuan kepada anak-anak didiknya atau muhibbin tentang adanya renovasi makam yang ada di makam Mbah Munshorif, Desa Sendangagung, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Banner itu raib dicuri seseorang,” terangnya.
Lebih lanjut Khafidz menyayangkan tentang insiden pencurian ini. Ia bahkan menyebut akan membawa kasus ini ke jalur hukum jika pelaku tak segera meminta maaf kepada pihak yayasan, panitia renovasi dan ahli waris.
“Yayasan Guyup Rukun ini didirikan langsung oleh Mbah Munshorif. Pencurian ini sungguh tindakan yang keterlaluan. Teman-teman di Yayasan Guyup Rukun akan menempuh jalur hukum pada kasus ini jika pelaku tak segera minta maaf dalam waktu 3×24 jam mulai dari sekarang,” paparnya.
Khafidz juga berharap, ke depan insiden seperti ini tak terulang kembali. “Semoga perbuatan ini tidak dilakukan oleh anak didik Mbah Munshorif, karena beliau sangat melarang untuk mengambil hak orang lain tanpa izin,” harapnya.
Sementara itu, Suwarno, selaku salah satu ahli waris Mbah Munshorif mengungkapkan kalau pihaknya tak menyangka akan terjadi insiden semacam ini. Ia juga menyayangkan atas adanya pencurian banner ini. Sebab, kata Suwarno, insiden ini bisa memantik provokasi terhadap para anak didik Mbah Munshorif.
“Kami menilai jika kejadian ini menunjukkan adanya sikap intoleran yang bisa menimbulkan provokasi terhadap santri atau anak didik Mbah Munshorif dari berbagai daerah,” katanya.
Oleh sebab itu, Suwarno berharap, orang yang telah mengambil banner segera meminta maaf kepada pihak-pihak terkait. Bahkan, ia juga masih membukakan pintu kepada yang bersangkutan untuk menyelesaikan permasalahan secara kekeluargaan.
“Kami hanya meminta kepada yang telah sengaja mengambil banner tanpa izin untuk meminta maaf. Kami masih menunggu i’tikad baik dari yang bersangkutan, 3×24 jam, agar masalah ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Sehingga renovasi makam ini pun bisa lancar kembali,” tutupnya.[riq/kun]






