Lamongan (beritajatim.com) – Tingginya intensitas hujan mengakibatkan sebagian besar kawasan di Kabupaten Lamongan terendam banjir. Air juga menggenangi sejumlah pemukiman warga, fasilitas umum, dan jalan raya.
Salah satu wilayah yang rutin disatroni banjir per tahun di Lamongan adalah kawasan Sungai Bengawan Njero. Tak ayal, warga di kawasan setempat pun banyak yang menggunakan perahu sebagai kendaraan alternatif mereka demi menjalankan aktifitasnya.
“Banjir terus naik, karena intensitas curah hujan yang tinggi. Selain itu juga karena hulu mulai dari Deket, Sugio, Kembangbahu, Kedungpring, Babat, dan lain-lain larinya ke Sungai Bengawan Njero, sehingga meluap,” ujar Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA) Lamongan, M Jupri, Jumat (17/12/2021).
Lebih lanjut, Jupri menjelaskan, banjir di kawasan tersebut kerap terjadi lantaran pembuangannya yang lebih kecil jika dibandingkan dengan air yang masuk ke Sungai Bengawan Njero.
“Banjir tahun ini lebih cepat, karena musim penghujannya lebih maju jika dibandingkan dengan tahun yang lalu. Di periode yang sama, jika kemarin 27 persen, maka saat ini 41 persen, terpaut 14 persen,” jelasnya.
Menyikapi banjir tahunan ini, Jupri mengaku, telah melakukan kordinasi dengan beberapa pihak, seperti BBWS dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Tak hanya itu, lanjut Jupri, masih ada beberapa kendala yang harus dihadapi.

“Sebenarnya problemnya sama, bagaimana kita mempersiapkan pembuangan airnya. Ini sebenarnya juga kewenangan BBWS. Master Plannya sudah ada, juga sudah dilakukan kajian, tinggal realisasinya. Mungkin tahun-tahun ini dari segi pendanaan yang dibutuhkan juga besar, maka perlu dipikirkan lagi,” bebernya.
Kendati demikian, Jupri berkata, pihaknya telah berusaha maksimal, dengan mendayagunakan sarana prasarana yang dimiliki.
“Kita sudah bekerja keras, selama ini jika Bengawan Solo tinggi ya pintu kuro kita buka. Serta sarana prasarana kita maksimalkan, mulai pompa, dan lain-lain,” kata Jupri.
[berita-terkait number=”4″ tag=”banjir-lamongan”]
Untuk meminimalisir dampak banjir, menurut Jupri, sejumlah kegiatan rutin digelar sebelum banjir, meliputi perawatan pompa, pembersihan enceng gondok, sampah, koordinasi dengan provinsi terkait memperlebar pembuangan, dan lain-lain.
“Untuk pompa saat ini, di Babat ada 3 pompa berkapasitas 1500, Melik ada 3 pompa kapasitas 1500, dan di Kuro ada 5 pompa berkapasitas 1000 sama 2500. Kalau nambah, kita kepengennya seperti itu, tapi juga menyesuaikan dana yang ada,” ucapnya. [riq/but]







