Lumajang (beritajatim.com) – Hingga hari ke 9, Senin (13/12/2021) siang ini keberadaan Samsul Arifin (34), masih belum ditemukan. Samsul hilang setelah lahar panas menyapu kawasan tambang pasir di Curah Kobokan, Desa Supiturang, Pronojiwo, Lumajang.
Samsul adalah ayah kandung dari Alfianah (10), bocah kelas 5 SD yang selamat dan kini mengungsi di rumah neneknya di Desa Oro Oro Ombo, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang.
Menurut Marhamah (31), istri dari Samsul Arifin menceritakan, hingga hari kesembilan dirinya bersama keluarga hanya bisa pasrah. “Kami berharap ayahnya Alfianah ini bisa ditemukan,” ucap Marhamah, Senin (13/12/2021).
Kata dia, keluarga setiap malam hanya bisa mendoakan dan mengirimi bacaan tahlil. “Setiap malam kami menggelar doa bersama. Berharap ada pertolongan Allah pada suami saya,” tuturnya.
Marhamah menegaskan, pada saat kejadian, suaminya sedang menjaga portal di Curah Kobokan. “Rumah suami saya di Curah Koboan, Dusun Gumukmas, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, hancur. Saat kejadian, suami saya menjaga portal tambang pasir. Sehari di bayar Rp 100 ribu. Tapi itu bergantian jaganya. Seminggu biasanya empat kali kerja,” tutur Marhamah.
[berita-terkait number=”4″ tag=”gunung-semeru-meletus”]
Sebelum kawasan tambang pasir Curah Kobokan di sapu lahar panas erupsi Semeru, lanjut Marhamah, suaminya sempat pulang ke rumah untuk makan dan sholat dhuhur.
“Pukul satu siang suami saya sempat pulang ke rumah. Makan dan sholat dhuhur. Lalu kembali lagi jaga portal. Kata temannya sesama penjaga Portal tambang saat terjadi Semeru meletus, sudah di peringatkan untuk segera meninggalkan Curah Kobokan, tapi suami saya gak mau karena sedang menolong orang yang ada dibawah aliran lahar,” tutur Marhamah.

Marhamah menambahkan, setelah berhasil menolong salah seorang penambang dan dibawa naik, kemudian terjadi banjir lahar dan guguran awan panas menyelimuti Curah Kobokan. Keduanya lalu hilang dan belum ditemukan hingga saat ini. (yog/ted)






