Malang (beritajatim.com) – Stadion Kanjuruhan berada di Jalan Trunojoyo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Lokasi stadion ini, berdekatan dengan Markas Batalion Zeni Tempur 5 Kepanjen, Markas Kodim 0818 Malang-Batu, Komplek Perkantoran Blok Office Pemkab Malang. Dan, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kanjuruhan.
Kapasitas duduk Stadion Kanjuruhan sebanyak 38.000 penonton. Namun, saat tragedi berdarah usai laga Arema melawan Persebaya, Sabtu (1/10/2022) lalu, jumlah penonton berlimpah.
Tiga orang Komisioner Kompolnas RI yang turun menyelidiki tragedi Kanjuruhan ini menemukan fakta, jumlah penonton melebihi kapasitas.
“Kami bertemu dengan Bupati Malang dan Panpel, bahwa kapasitas stadion Kanjuruhan sebenarnya hanya 38 ribu. Namun temuan kami, hingga jeda babak pertama, ternyata masih ada ribuan orang yang memegang tiket belum bisa masuk ke dalam stadion. Artinya apa, Panpel mencetak tiket melebihi kapasitas, ini yang nanti akan kita sampaikan ke Presiden melalui ketua Timsus yang juga Ketua Kompolnas Pak Mahfud sebagai data penting,” ungkap Komisioner Kompolnas RI Albertus Wahyurudanto, Selasa (4/10/2022) siang.
Menurut Albertus, ribuan suporter masih ada di area luar stadion meski sudah mengantongi tiket. PT Liga bahkan mencatatkan jumlah penonton ketika yang ada di dalam stadion sebanyak 42.000 orang lebih. Sementara pasca pertandingan selesai, planing pengamanan untuk segera mengevakuasi pemain Persebaya keluar Stadion Kanjuruhan, terhambat karena jumlah penonton yang masih berada di luar penuh.
“Jadi ini ada dua kejadian. Pertama ketika pertandingan selesai, planing pengamanan segera mengevakuasi pemain Persebaya ke luar. Tapi butuh waktu karena pemain harus menuju ruang ganti pemain dulu. Kemudian pemain masuk ke Baracuda. Nah ini juga terhambat, karena banyaknya orang dan ada garis kawat berduri. Kedua, kejadian di dalam stadion hingga tembakan gas air mata terjadi itu,” tuturnya.
Usai pertandingan dengan skor Arema 2 dan Persebaya 3, suasana ketika itu masih terkendali. Kompolnas menyebut, langkah preventif dan pencegahan, sudah dilakukan Polres Malang. Termasuk, menyampaikan pada petugas keamanan untuk tidak melakukan tindakan represif apa pun keadaanya. Tidak boleh membawa senjata api. Serta, menginformasikan 5 jam sebelum pertandingan agar tidak menggunakan gas air mata.
Siang hingga sore hari, pada Sabtu (1/10/2022) itu, kawasan Stadion Kanjuruhan di Jalan Trunojoyo, sudah diguyur hujan lebat. Pohon besar tumbang hingga menutup akses jalan menuju area stadion. Pohon besar tersebut berhasil diassesment Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang yang posisinya, di depan pintu masuk Stadion Kanjuruhan.
Hujan deras belum juga reda sampai pukul tiga sore ketika itu. Beberapa kios pedagang kaki lima yang ada di kawasan luar Stadion, tenda dagangan mereka poranda di terjang angin kencang dan hujan. “Upaya preventif Polres Malang sudah dilakukan sejak awal. Bisa dibayangkan petugas pengamanan sampai harus apel pasukan di tribun stadion, berteduh. Karena kondisinya hujan deras. Artinya apa, mereka sudah bekerja maksimal hingga 10 jam. Memastikan agar pengamanan maksimal,” tutur Albertus.
Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat yang sudah dinonaktifkan hari ini, sudah meninjau persiapan pengamanan sejak Sabtu (1/10/2022) pagi. Ferli di dampingi langsung para perwira pertama dan menengah Polres Malang untuk melihat titik titik mana di stadion sebagai antisipasi prosedur pengamanan.
Pada hari itu, skema rekayasa lalu-lintas juga sudah diberlakukan Polres Malang. Salah satunya, kendaraan umum roda enam atau lebih tidak boleh melintas di Jalan Trunojoyo depan Stadion Kanjuruhan. Jelang kick off malam hari, seluruh akses jalan menuju stadion, sudah penuh sesak ribuan kendaraan. Pertandingan berjalan normal. Berbalas gol tersaji. Arema 2, Persebaya unggul 3 gol hingga pluit akhir. Keributan terjadi. 125 orang tewas.
Kapolda Jatim Irjen Nico Afinta usai laga menegaskan, penyebab kericuhan karena penonton kecewa atas kekalahan tim Arema melawan Persebaya. “Terjadi kekecewaan penonton yang melihat tim kesayangannya tidak pernah kalah selama 23 tahun bertanding di kandang sendiri. Namun pada malam ini mengalami kekalahan,” ujarnya.
Rasa kekecewaan itulah yang memicu sebagian orang masuk ke dalam lapangan seusai pertandingan. “Untuk melakukan pencegahan agar tidak ke tengah lapangan, tim pengamanan melakukan pencegahan dengan gas air mata. Karena sudah anarkis, sudah mulai menyerang petugas, merusak mobil, dan karena gas air mata mereka keluar pada satu titik, pintu keluar di pintu 10 atau 12,” pungkas Nico.
Ironisnya, ketika tembakan gas air mata terjadi, akses pintu keluar Stadion justru terkunci. Penonton panik. Berdesakan. Terinjak injak. Korban jiwa berjatuhan.
[berita-terkait number=”4″ tag=”arema-vs-persebaya”]
“Kami belum memperoleh penjelasan resmi siapa orangnya yang mengunci pintu keluar Stadion ketika itu. Tapi memang benar, ada, pintu terkunci. Ada 12 pintu, kemudian ada 2 pintu besar. Dan ada pintu yang terkunci itu sehingga penonton tertumpuk,” ungkap Komisiner Kompolnas, Albertus Wahyurudanto.
Lalu siapa pemegang kunci? “Kami belum ke arah sana, tapi secara logika yang pegang kunci adalah Panpel Arema. Tidak mungkin Polisi memegang kunci. Tetapi kepastianya membutuhkan pendalaman lagi, sebeletulnya siapa yang memegang kunci itu,” tegas Albertus.
Albertus menguraikan, dimana-mana pintu stadion selalu dibuka ketika waktu sudah mendekati 15 menit jelang pertandingan selesai. Karena hal itu untuk memberikan kesempatan bagi penonton yang ingin keluar lebih dahulu.
“Jadi ini ada dua kejadian. Yang di luar stadion pemain Persebaya yang mau dibawa ke luar terhambat. Sementara yang di dalam ada masalah yang kemudian munculah tembakan gas air mata itu,” pungkasnya. [yog/but]






