Surabaya (beritajatim.com) – Protes yang dilakukan penggemar PSS Sleman dengan tagar DejanOut, Arthur Irawan Hingga ancaman pindah homebase ramai jadi perbincangan terutama di media sosial Twitter. Sebenarnya apa yang terjadi dengan klub asal Sleman, Jawa Tengah tersebut?
Hal itu diawali ketika fans PSS Sleman menyerbu omah PSS akibat tuai hasil buruk di Liga 1 Indonesia. Memang, kejadian buruknya performa tim diprotes oleh suporter bukan yang pertama terjadi, karena hal ini sudah biasa terjadi di sepakbola. Begitu pula yang terjadi pada PSS Sleman.
Karena rentetan hasil buruk yang dialami oleh PSS Sleman, fans PSS Sleman menyerbu markas PSS yang diberi nama Omah PSS. Bukan tanpa alasan, penggemar melakukan itu karena hingga pekan ke 5 lanjutan BRI Liga 1 saat ini PSS Sleman masih menduduki peringkat ke 15 dengan raihan hanya 4 poin. Seruan dengan tagar Dejan Out, yang meminta pelatih mereka Dejan Antonic untuk cabut menjadi tuntutan utama.
Banyak sekali poster juga spanduk yang meminta Dejan untuk turun, bahkan ada penggemar yang menuliskan kalimat menohok ‘Dejan Miskin Taktik’. Selain meminta Dejan untuk pergi, para fans PSS juga menyoroti Arthur Irawan yang dianggap tidak bermain baik tapi masih terus saja ada di starting line-up klub PSS Sleman. Narasi-narasi lain terkait Arthur pun muncul, ia dianggap menjadi pemain titipan yang ada di PSS.
Arthur dianggap sebagai titik lemah tim PSS ketika main di berbagai pertandingan. Wajar jika banyak fans yang akhirnya mencibir Arthur karena di klub lain pun, pemain yang satu ini jarang dipercaya jadi pengisi lini utama klubnya terdahulu. Hingga saat ini, total, Arthur hanya bermain 10 kali dalam 4 tahun sebelum BRI liga 1 dimulai.
Selanjutnya penggemar PSS juga naik pitam saat diterangkan PSS akan pindah homebase. Berbagai macam tekanan yang diberikan oleh suporter akhirnya direspon oleh manajemen. Para perwakilan suporter yang datang bertemu manajemen mendengar bahwa manajemen akan mengabulkan permintaan #DejanOut namun akan memindahkan homebase PSS Sleman.
Sontak, massa yang ada di depan Omah PSS makin beringas karena mendengar hal tersebut. Sumpah serapah dilontarkan makin keras setelah pengumuman tersebut dan media sosial juga kondisinya semakin panas. Hingga akhirnya manajemen meluruskan isu ini. Sadar karena apa yang disampaikan manajemen tersebut jadi membuat kondisi lebih panas, manajemen meluruskan statement dan membuat klarifikasi.
Dilansir dari website resmi Liga 1 Indonesia manajemen PSS Sleman, Marco menuturkan permintaan maafnya atas statement yang telah tersebar. “Ada masalah komunikasi. Saya menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Kabupaten Sleman, terutama fans PSS, saya pastikan PSS milik kabupaten Sleman”. Terang Marco, mengatakan hal tersebut lantaran banyaknya tekanan yang ia terima. [dan/esd]






