Surabaya (beritajatim.com) – Mungkin Anda pernah mendengar istilah Guilt Tripping? Istilah ini dipakai untuk menjelaskan sebuah bentuk manipulasi seseorang hingga korbannya merasa tak nyaman, hingga pada akhirnya merasa bersalah.
Guilt trip ini tentu sangat tidak sehat bagi kehidupan sosial, terutama hubungan pribadi. Adapun ciri-ciri dari guilt tripping ini sebagai berikut.
Pertama, menunjukkan amarahnya, tapi jika ditanya menyatakan ketidak-apa-apaan. Kedua, Anda berusaha menyelesaikan, tapi dia justru cuek bebek. Ketiga, melakukan tindakan silent-treatment.
Keempat, memberi komentar sarkas untuk semua usahamu. Kelima, rasa salah di masa lalu Anda selalu ungkit terus-menerus. Keenam, bantuan dia bagi Anda kamu pun diungkit juga. Ada beberapa jenis-jenis dari guilt trip. Jenis guilt trip terbagi atas tujuannya. Anda bisa memahaminya agar tidak sampai terjebak.
Memancing simpati
Jenis yang pertama yaitu bertujuan untuk menimbulkan simpati. Demi mendapatkan simpati dari korban, pelaku guilt trip melakukan segala cara Agar membuat bikin dirinya terlihat paling tersiksa. Sehingga hal ini membuat orang lain menimbulkan simpati.
Ingin kabur dari masalah demi menghindar dari konflik
Demi menghindari konflik dengan korbannya, para pelaku biasanya melakukan guilt trip. Agar korbannya berhenti untuk mengungkit konflik di antara mereka. Yang penting, dia mendapatkan tujuannya dan menghindari konflik yang besar.
Manipulasi
Jenis berikutnya yaitu guilt trip guna memanipulasi korbannya. Agar memaksa korbannya untuk melakukan hal yang pelaku mau atau tidak harus dilakukan. Tentu manipulasi ini akan mengarahkan korban pada hal yang sebenarnya tidak ingin dia lakukan.
Pendidikan moral
Yang terakhir yaitu pendidikan moral. Jadi, jika guilt trip jenis ini, si pelaku berusaha memberi edukasi buat korbannya terkait apa yang dia pikir sebagai kebenaran. Ini sebenarnya yang begitu bahaya karena pelaku pandai memanipulasi keadaan.
Semua hal pasti punya dampaknya masing-masing, termasuk guilt trip. Dampak guilt trip adalah sebagai berikut. Pertama, dapat mengganggu kesehatan mental dari si korban.
Kedua, akan merusak hubungan antara pelaku dan korban. Ketiga, menimbulkan kebencian di dalam diri korbannya.
Keempat, dapat menjadi pemicu dari hubungan toxic karena guild trip berusaha memanipulasi hubungan dari satu orang dan orang lainnya. (dan/ian)

as a preferred source on Google




