Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta, menjadi salah satu kandidat presiden dalam Pemilihan Umum 2024. Sejumlah survei menempatkannya menjadi salah satu kandidat kuat selain Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.
Cucu pahlawan nasional Abdurrahman Baswedan ini bukan anggota partai politik dan belum memiliki kendaraan untuk maju sebagai kandidat presiden. Namun, kinerjanya sebagai gubernur DKI menjadi modal besar dalam kontestasi.
“Kinerjanya sebagai gubernur DKI Jakarta bukan hanya mendapatkan opini publik nasional, tapi juga internasional. Karya dan kinerja sebagai gubernur DKI sudah banyak ditorehkan dan diakui masyarakat internasional,” kata Muhammad Iqbal, dosen ilmu komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Salah satu penghargaan terbaru untuk Anies adalah Sustainable Transport Award 2021 yang dianugerahkan pada 2021. Ini penghargaan untuk kota yang memiliki perbaikan sistem mobilitas selama 18 bulan terakhir, dan Jakarta menunjukkan komitmen dan visi pembangunan transportasi berkelanjutan di bawah kepemimpinan Anies.
Keberhasilan Anies melakukan terobosan selama memimpin DKI juga dianggap Suko Widodo, dosen ilmu komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga di Surabaya, merupakan modal bagus. “Dalam konteks pembangunan riil, pembangunan infrastruktur, bagus. Itu bisa dijual,” katanya.
Kesuksesan Anies memimpin Jakarta bisa dilihat dari hasil sigi Populi Center yang dilakukan sepanjang 26 Januari – 1 Februari 2022. “Tingkat kepuasan terhadap kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta relatif tinggi, dengan rerata tingkat kepuasan pada angka 7,61 dari skala 1-10 dan akumulasi skor 6-10 (positif/puas) sebesar 86 persen,” kata peneliti Populi Center, Rafif Pamenang Imawan dalam keterangan tertulisnya, sebagaimana dilansir CNN Indonesia, Rabu (9/2/2022).
Kelebihan Anies sebagai pemimpin, menurut Suko, adalah pada gagasan besarnya. Tidak semua kandidat presiden saat ini memiliki gagasan besar. “Anies punya gagasan cukup bagus, tapi kadang kemelipen (terlalu tinggi, red). Dia perlu membumikan gagasan-gagasannya dengan cara-cara yang atraktif. Cara memahamkan kepada rakyat, dia masih kurang,” katanya.
Gagasan Anies seringkali elitis dan hanya mampu dipahami kelompok kelas menengah terpelajar. Dia harus bisa membumikan gagasan-gagasannya untuk masuk ke jaringn-jaringan kelompok masyarakat yang lebih luas.
“Anies seorang komunikator yang menarik, tapi kurang ‘urakan’. Komunikasinya masih elitis. Style priyayinya harus diturunkan,” kata Suko. Dia melihat Anies berpotensi menggusur Ganjar dalam hal menarik dukungan partai dengan kemampuan komunikasi politik dan gagasan-gagasannya.
Namun, Suko menilai, Anies punya pekerjaan rumah untuk memutus hubungan dengan ‘Gerakan 212’ yang mendukungnya saat Pemilihan Gubernur DKI 2017. Gerakan massa yang terjadi pada 2 Desember 2016 itu seringkali diidentikkan sebagian kalangan sebagai gerakan kelompok Islam radikal yang mendemo Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). “Itu hambatan terbesar Anies,” katanya.
Berdasarkan riset Suko, apapun yang terkait dengan Gerakan 212 ditolak terutama oleh kelompok etnis Tionghoa. “Tapi di kalangan orang yang santun, misalnya, Anies dianggap bagus: ‘pemimpin harus salat dan salatnya Anies itu betul’. Citra dia (yang dekat dengan Islam radikal) agak menghambat. Kalau mau, dia dekati kiai kampung, NU tradisional, nonton wayang, mendekati kelompok Kejawen,” katanya.
Namun, Kun Wazis, doktor ilmu komunikasi Universitas Islam Negeri KH Achmad Shiddiq Jember, justru berpandangan Anies berpotensi didekati partai yang memiliki ideologi Islam yang kental seperti Partai Persatuan Pembangunan (PPP). “Secara ideologi PPP akan cenderung kepada tokoh yang memiliki komitmen keislaman dan kebangsaan. Anies dan Muhaimin Iskandar memiliki peluang kuat, tetapi bergantung dengan pasangan yang menjadi kalkulasi politik untuk meraih kemenangan,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pilpres-2024″]
Muhammad Iqbal membenarkan jika opini warganet terhadap Anies di media sosial terbelah, termasuk karena identifikasi terhadap mantan Rektor Universitas Paramadina itu dengan kelompok Islam radikal. “Ada sentimen positif dan negatif,” katanya.
Namun, menurut Iqbal, sepanjang memimpin DKI pada masa pandemi, praktis Anies jarang larut dalam hiruk-pikuk isu politik nasional. “Bahkan dalam arus pemindahan ibu kota negara, Mas Anies tidak ikut-ikutan genit. Ada beberapa cuitannya yang cenderung memicu, tapi tidak signifikan,” katanya.
Ini merupakan sebuah keuntungan tersendiri bagi Anies. Apalagi belum ada partai politik yang terang-terangan mencalonkannya. Tinggal bagaimana Anies aktif melakukan lobi dan negosiasi politik dengan partai atau mengikuti mekanisme konvensi partai untuk mencalonkan diri sebagai presiden.
“Tapi jika Mas Anies dicalonkan dalam posisi wakil presiden, langgamnya baru menarik. Bila dia setuju posisi wapres, tergantung posisi calon presidennya dan posisi seperti itu terbuka untuk dikomunikasikan dengan partai politik,” kata Iqbal.
Dalam konteks Anies sebagai calon wakil presiden ini, Kun Wazis melihat kemungkinan Anies menjadi sekondan Puan Maharani cukup terbuka. “Di awal, ketika muncul nama Puan-Anies, kepentingan Islam bisa ditautkan ke Anies, dan kalkulasi politik kemenangan ada di Puan sebagai representasi kekuatan politik dominan,” katanya. [wir/ted]






