Ponorogo (beritajatim.com) – Seorang anggota polisi dari Satuan Polisi Lalulintas (Satlantas) Polres Ponorogo, Briptu Luhur Ainul Fikri, telah memulai inisiatif mulia dengan mengajari anak-anak difabel di Panti Asuhan Tunanetra Aisyiyah Ponorogo untuk lebih mengenal gamelan Reog.
Meskipun sibuk dengan tugasnya di Satlantas, Luhur tetap meluangkan waktu seminggu sekali untuk berbagi ilmu seni. Yakni dengan mengajari 15 anak difabel yang mayoritas tuna netra itu, musik gamelan Reog Ponorogo.
“Sedikit berbagi ilmu dengan anak-anak di Panti Tunanetra Aisyiyah Ponorogo. Kebetulan saya juga seorang seniman Reog Ponorogo,” ungkap Luhur, ditulis Sabtu (09/12/2023).
Baca Juga: Persepam Akan Hadapi Laga Berat Lawan Perssu Madura City
Luhur, telah melatih anak-anak ini kurang lebih sudah dua tahun belakangan ini. Mereka belajar berbagai keterampilan di gamelan Reog Ponorogo. Yakni, mulai dari menabuh gendang, menabuh gong, meniup terompet Reog, hingga bermain angklung dan memukul kenong.
“Semua gamelan Reog diajarakan, mulai dari gendang, gong, terompet reog, angklung dan kenong,” katanya.
Meski menghadapi tantangan mengajari anak-anak difabel yang mungkin belum pernah mengenal seni Reog sebelumnya, Luhur menekankan kesabaran dan ketelatenan sebagai kunci keberhasilan. Ia juga mencatat bahwa anak-anak ini, meskipun memiliki keterbatasan, namun memiliki kelebihan luar biasa. Mereka menguasai materi dengan cepat, padahal mungkin selama ini mereka juga belum melihat tarian Reog itu sendiri.
“Walaupun mereka mempunyai keterbatasan, namun mereka juga ada kelebihan. Yakni dapat menguasai materi dengan cepat. Namun, juga harus telaten dan sabar. Bahkan harus bisa menyesuaikan dengan mood mereka,” katanya.
Baca Juga: Warga Ponorogo Sukses Ubah Jajanan Jadul Mi Lidi Jadi Kekinian Laris Manis di Pasaran
Muhammad Harris, salah satu murid Luhur di Panti Asuhan Tunanetra Aisyiyah awalnya penasaran dengan bunyi terompet Reog. Sebab, saat mendengarkan alunan terompet itu, Ia takjub suaranya tidak putus-putus selama musik berlangsung.
“Dulu saya ya takut dengan namanya reog. Belajar terompet ini, karena penasaran kok suaranya tidak putus-putus,” katanya.
Dalam belajar terompet Reog ini, Harris hanya mengandalkan pendengaran saja. Awal-awal belajar, Ia mengaku bingung karena lubang terompet Reog hanya ada 5 lubang. Sehingga memainkan agak sulit, sedangkan Ia hanya bisa mendengarkan nadanya saja.
Baca Juga: Chesa Canggu Bali, Destinasi Wisata Eksotis untuk Rayakan Natal dan Tahun Baru 2024
“Dulu saya ya bingung. Setelah beberapa kali belajar dan tahu, akhirnya saya senang dengan Reog,” pungkasnya.
Meskipun awalnya ada ketakutan dan kendala, anak-anak difabel ini menemukan kebahagiaan dalam belajar seni Reog dan menunjukkan kemampuan luar biasa mereka. Inisiatif Briptu Luhur Ainul Fikri tidak hanya memberikan pengetahuan seni, tetapi juga memupuk semangat dan kepercayaan diri pada anak-anak difabel yang ada di Panti Asuhan Tunanetra Aisyiyah Ponorogo. (end/ian)






