Malang (beritajatim.com)– Wakil Ketua Komisi B DPRD Jawa Timur, Chusni Mubarok mengusulkan agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) bisa dimasukkan dalam kurikulum pendidikan di sekolah.
Menurut Chusni yang juga Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Malang menegaskan, usulan MBG masuk kurikulum di sekolah sudah ia gaungkan bersama seluruh kader Partai Gerindra di Jawa Timur.
“Kami di partai Gerindra sudah mengusulkan agar program MBG ini masuk kurikulum. Kenapa, karena ada proses pembelajaran disana. Yakni ada intervensi gizinya, lalu kebersamaan dalam proses penyajiannya. Ada pendidikan gizinya, pendidikan hidup sehatnya. Ini harus masuk kurikulum,” tegasnya, Jumat (16/10/2026).
Chusni menerangkan, kalau pendidikan jasmani saja bisa masuk kurikulum, pendidikan hidup sehat dan pendidikan akan pentingnya nilai gizi yang dibawa seumur hidup, seharusnya juga bisa masuk pada kurikulum di sekolah.
“Tanpa mengganggu jam pelajaran yang lain, harusnya bisa masuk kurikulum plot khusus tentang MBG ini,” tegasnya.
Soal MBG model prasmanan, Chusni juga bilang, bahwa ada infrastruktur tambahan yang pasti harus dilakukan baik dari BGN, oleh yayasan atau mitra untuk mewujudkannya.
“Bagaimana nanti untuk penyiapan MBG Prasmanan, tentunya ada komitmen dari BGN dengan mitra dan yayasan nanti. Karena kan harus menyiapkan alat pemanas manakan, Karena model prasmanan ini mempertahankan suhu panas makanan dari dapur sentral hingga dibawa ke sekolah. Sehingga bisa disajikan ke siswa dalam kondisi masih hangat dan suhu yang terjaga,” ujar Chusni.
Chusni menuturkan, SMPN 1 Kepanjen salah satu pilot project MBG model prasmanan dari 61 titik se Indonesia.
“Ini hari terakhir kita uji coba MBG model prasmanan. Hasil evaluasi kami, banyak siswa lebih suka karena makanan lebih fresh. Makanan lebih enak. Karena dari dapur rantai panas makanan dipertahankan hingga menuju meja prasmanan. Sehingga suhunya tetap terjaga. Makanan suhunya dipertahankan hingga di 60 derajat,” bebernya.
Chusni bilang, pihaknya akan membawa berbagai masukan dan usulan dari plus dan minusnya MBG prasmanan ke Badan Gizi Nasional.
“Kalau kita ingin di permanenkan model prasmanan, tentunya ada beberapa hal yang harus diperbaiki. Misalnya tentang waktu makannya. Atau kami dari Malang ini selalu mengusulkan agar program MBG ini masuk dalam kurikulum. Karena di program MBG tidak hanya intervensi gizi saja, tapi disini ada pendudukan tentang hidup sehat, pendidikan tentang kebersamaan. Dimulai dengan berdoa sebelum makan bersama dilakukan,” pungkasnya. (yog/aje)






