Mojokerto (beritajatim.com) – Seorang pekerja tambang manual tewas tertimbun di lokasi galian C Dusun Grogol, Desa Kepuhpandak, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto. Setelah berhasil dievakuasi, jenazah Latif (50) warga Desa Tangunan RT 007 RW 004, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto dibawa ke RSUD Prof Dr Soekandar. Peristiwa ini membuat anak dan istri sang pekerja menangis histeris.
Rekan korban, Bunawi (60) mengatakan, ia bersama korban dan satu temannya, Suhari (59) warga Desa Baureno, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto datang ke lokasi untuk melakukan aktivitas pengalian secara manual. “Kita bertiga datang bersama, saya sama Suhari. Korban naik motor sendiri,” ungkapnya, Rabu (11/3/2020).
Masih kata Bunawi, ketiganya sempat sarapan bareng sebelum melakukan aktivitas penambangan milik Juwadi (45) tersebut. Sekitar pukul 07.30, ketiganya sampai di lokasi dan langsung melakukan aktivitas. Namun sekira pukul 08.00 WIB terdengar suara gemuruh tanah longsor, sehingga keduanya lari.
“Lokasinya agak jauh dengan saya sehingga saya tidak tahu secara langsung kejadiannya. Tahu-tahu saya melihat korban sudah tertimbun tanah dan saya langsung berteriak minta tolong. Saya menghubungi pemilik dan kemudian polisi datang. Dia (korban, red) tadi bilang kalau bawa makanan, kita disuruh makan,” katanya.
“Dua hari ini, dia (korban, red) bawa sepeda motor. Padahal biasanya bawa sepeda angin. Tadi dia juga bawa makanan, kita di suruh makan sambil bilang ‘kapan maneh tak gawakno’. Belum dimakan, masih di sepeda motor. Ada di gubuk sepeda motornya, tadi kita ke warung, sarapan,” ujarnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”tewas”]
Rekan korban lainnya, Suhari (59) membenarkan, jika ada tiga orang yang bekerja membuat jalan. “Ada tiga orang, buat untuk jalan jadi sendiri-sendiri. Tanah di bagian atas tiba-tiba longsor, satu meninggal orang Tangunan. Saya langsung lari,” tegasnya.
Tubuh korban tertimbun longsoran galian, setelah berhasil dievakuasi jenazah korban dibawa ke RSUD Prof Dr Soekandar, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto untuk dilakukan otopsi. Di depan ruang jenazah, tampak istri korban, Suminah (48) dan dua anaknya Fifit Dwi Sasmita (20) dan Salsa Nur Afifa (5) menangis. [tin/but]







