Pasuruan (beritajatim.com) – Mobil jeep yang diisi oleh pegawai Pemda Ngawi terjatuh ke jurang di penanjakan Gunung Bromo, beberapa waktu lalu. Imbas kejadian itu, jasa penyewaan jeep mengalami penurunan.
Adi Cakra, pengurus paguyuban jeep wilayah Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari mengeluhkan adanya penurunan jumlah wisatawan. Diduga penurunan jumlah wisatawan ini akibat kejadian kecelakaan yang berisi pegawai Pemda Ngawi.
“Wisatawan rupanya agak takut, akibat insiden kemaren. Biasanya masih setengah hari sudah ludes disewa, tapi saat ini malah jangka waktu setengah hari 250 jeep yang dicancel,” ujar Adi.
Penurunan wisatawan ini otomatis berdampak pada sepinya aktivitas keberangkatan jeep dari Tosari ke Bromo. Adi menjelaskan pada hari ini hanya 10 jeep saja yang terlihat berangkat.
Sedangkan biasanya dalam satu hari bisa mencapai sekitar 50 jeep yang berlalu lalang mengantarkan wisatawan. “Jumlah hariannya juga turun, ini saja tadi cuma 10 jeep yang berangkat, normalnya satu hari bisa 50 jeep,” ungkapnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”gunung-bromo”]
Adi menyayangkan para pengemudi jeep di Kecamatan Tosari yang seolah jadi korban terkena imbas dari insiden kecelakaan tersebut. Pasalnya kecelakaan maut yang menewaskan dua korban termasuk salah satunya anggota rombongan Pemkab Ngawi tersebut melibatkan pengemudi jeep asal Kabupaten Probolinggo.
“Padahal kebetulan saja kecelakaannya tempatnya di Tosari. Kalau drivernya orang Probolinggo yang ternyata tidak terdaftar anggota paguyuban disana,” keluhnya.
Senada, Yoga seorang pengemudi jeep asal Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari juga mengeluhkan sepinya wisatawan penyewa jeep. Dalam sehari biasanya dia bisa mendapatkan upah sekitar Rp 600 ribu untuk sekali mengantarkan wisatawan.
Namun akibat insiden kecelakaan tersebut, kini pendapatannya jadi tidak menentu. “Biasanya satu hari cuma bisa sekali ngantar wisatawan, itupun mulai pagi kadang bisa sampai sore,” ucapnya. [ada/but]






