Jember (beritajatim.com) – Tahun politik membuat sejumlah calon legislator partai peserta pemilu ingin menemui para guru tidak tetap (GTT) dan pegawai tidak tetap (PTT) sektor pendidikan di Kabupaten Jember, Jawa Timur.
\\r\\n
Hal ini dikemukakan Ketua Umum Asosiasi Guru Tidak Tetap-Pegawai Tidak Tetap Jember Abdul Halil, di sela-sela acara Kongres PTT di Aula Kantor Persatuan Guru Republik Indonesia Jember, Kamis (27/12/2018). \\\”Para caleg ingin ada pemilih cerdas, karena dalam pemilu mendatang tak ada foto dan gambar. Semua tulisan dan nama,\\\” katanya.
\\r\\n
Menurut Halil, para GTT dan PTT akan memilih caleg dan kontestan politik yang berhasil memperjuangkan nasib. \\\”Ini untuk kesejahteraan kami bersama. Namun sampai detik ini, semua PHP (Penebar Harapan Palsu), tak ada kejelasan, sehingga kami harus berhati-hati terhadap janji-janji mereka,\\\” kata pria yang juga berprofesi sebagai guru di Kecamatan Ledokombo ini.
\\r\\n
Asosiasi GTT-PTT menginginkan adanya komitmen bersama dengan caleg untuk memperjuangkan nasib dan kesejahteraan mereka. \\\”Biar tidak melenceng lagi dari janji-janji mereka. Selama ini tidak ada komitmen (tertulis), sehingga mengambang semua. Mau menuntut bagaimana, ke siapa, tidak bisa. Ke depan teman-teman akan lebih cerdas lagi,\\\” kata Halil.
\\r\\n
Sementara itu, Ketua PGRI Jember Supriyono ingin para GTT dan PTT cerdas dalam menanggapi situasi politik. \\\”Kami melihat situasi politik, teman-teman dieksploitasi, sering dikumpulkan di mana-mana diminta memilih ini dan itu, tapi tidak jelas apa yang mau diberikan kepada mereka. Kami ingin mereka cerdas. Suara mereka suara emas, menentukan jalannya pemerintahan ke depan. Kalau ada calon-calon menawarkan kepada teman-teman, harus jelas kontraknya, apa yang akan dilakukan untuk memperbaiki nasib teman-teman PTT,\\\” katanya. [wir]





