Surabaya (beritajatim.com) – Ketua Umum PP Muslimat NU yang juga Dewan Pengarah Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN), Khofifah Indar Parawansa ikut buka suara perihal belum maksimalnya gerak Cawapres KH Ma\\\’ruf Amin dalam mendongkrak elektabilitas Capres Jokowi.
\\\”Ada potensi suara besar yang belum terkonfirmasi bahwa kakeknya Kiai Ma\\\’ruf Amin itu adalah ulama besar yang lama bermukim di Madinah dan punya murid banyak tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Dia adalah Syekh Nawawi Al Bantani,\\\” kata Khofifah saat acara Rilis Survei The Initiative Institute \\\’Jatim Sebagai Penentu Pilpres 2016\\\’ di Hotel Wyndham Surabaya, Senin (17/12/2018).
Menurut Khofifah Gubernur Jatim terpilih ini, ada dua metode dalam menalar yaitu induktif dan deduktif. \\\”Kiai Ma\\\’ruf lebih bersifat deduktif. Feeling saya, beliau akan fokus menggarap suara di Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat. Kiai Ma\\\’ruf adalah cucu Syech Nawawi yang harus dikomunikasikan. Kalau ada yang mengkapitalisasi itu sangat baik,\\\” jelasnya.
\\\”Ini yang belum dikomunikasikan secara efektif. Harus ada tim yang mengkomunikasikan hal itu seperti dilakukan temu alumni para santri dari Syekh Nawawi Al Bantani. Memanggil memori itu penting. Kalau Kiai Ma\\\’ruf sudah cukup kelilingnya saat menjadi Ketua Umum MUI dan Rois Aam PBNU,\\\” imbuhnya.
Sedangkan, politisi Partai Golkar Misbakhun dalam kesempatan sama berpendapat, potensial voters di kubu Jokowi-Ma\\\’ruf ada yang belum terdeteksi dan jika digarap serius akan menjadi real voters.
\\\”Cara Kiai Ma\\\’ruf berkampanye jangan dibandingkan dengan Sandiaga Uno berkampanye. Tapi bagaimana Kiai Ma\\\’ruf bisa menggunakan posisi itu untuk menghilangkan isu hoaks Jokowi yang anti Islam dan dituduh PKI. Beliau tidak perlu datang ke pasar-pasar, metodenya berbeda. Paling loyal pemilih itu adalah perempuan. Bagaimana bisa merebut suara ibu-ibu Muslimat NU. Itu paling loyal, karena ibu bisa nyuruh suaminya dan anaknya. Simbolisme itu ada di pihak Jokowi,\\\” pungkasnya. [tok/but]





