Mojokerto (beritajatim.com) – Sampah plastik masih menjadi momok bagian sebagian kota termasuk Kabupaten Mojokerto. Pasalnya, catatan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mojokerto menyebutkan bahwa dalam setahun menghasilkan sampah plastik 4 ton lebih.
Jumlahnya, tiap tahun terus melonjak. Sehingga masalah sampah plastik menjadi atensi Pemkab Mojokerto. Untuk mengurangi sampah plastik, DLH mengembangkan bank sampah. Saat ini, Kabupaten Mojokerto memiliki 170 bank sampah unit yang tersebar di 18 kecamatan dan satu bank sampah induk.
Kepala DLH Kabupaten Mojokerto, Zainul Arifin mengatakan, melalui bank sampah, presentase pengurangan sampah plastik hingga 30 persen. \\\”Di bank sampah, anggota akan mendaur ulang, membuat berbagai kerajinan berbahan dasar sampah plastik ataupun menjualnya kembali kepada pengepul,\\\” ungkapnya, Senin (17/12/2018).
Masih kata Zainul, kontribusi masyarakat untuk mengentaskan masalah sampah plastik sangatlah penting. Kepedulian masyarakat Mojokerto terbilang sudah sangat tinggi. Terbukti, masyarakat banyak yang mendirikan bank sampah. Namun, ia tidak menampik bahwa ada beberapa masyarakat yang belum sadar akan bahaya sampah plastik.
\\\”Karena Sampah plastik tidak mudah terurai, berbeda dengan sampah organik. Kami akan terus menggelar pelatihan pengolahan sampah rumah tangga, pembinaan bank sampah, mengedarkan surat imbauan. Kami juga sudah membuat kebijakan strategi daerah tentang pengelolaan sampah,\\\” katanya.
Selain itu, DLH juga memiliki pekerjaan rumah yang masih belum terselesaikan yakni pasar. Karena pihaknya mengaku kesulitan menemukan pasar untuk menyalurkan barang-barang kerajinan berbahan dasar plastik yang dibuat oleh anggota bank sampah. Tentunya, jika pasar masih belum jelas geliat kegiatan pengolahan sampah di bank sampah akan menurun.
\\\”Karena mereka sudah banyak membantu dalam rangka untuk menjaga lingkungan, paling tidak kami harus berupaya membantu marketingnya. Kedepan kami akan membuat sentra kerajinan dari sampah plastik. Selain itu juga mengikutsertakan produk dari sampah plastik tersebut di setiap pameran. Inovasi dan ide mereka ,\\\” tegasnya.
Sementara itu, pengurus Bank Sampah Dusun Jiyu, Desa Jiyu, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto mengatakan, Anis Andayani mengatakan, anggotanya sempat membuat kerajinan yang terbuat dari sampah plastik, namun tak berjalan lama. \\\”Yang beli cuman warga sekitar sini saja. Mungkin hal itu yang membuat para anggota berhenti,\\\” ujarnya.
Hal itu dikarenakan anggota bank sampah Dusun Jiyu tak tahu pasar yang akan dituju untuk menjual produk daur ulang tersebut. Selain itu pembuatan produk kerajinan dari daur ulang sampah plastik tebilang sulit sehingga pihaknya menyarankan agar Pemkab Mojokerto menggelar pelatihan secara intens. [tin/suf]





