Jember (beritajatim.com) – Hanan Attaki, pendakwah generasi milenial, diroasting KH Mushoddiq Fikri Farouq alias Gus Fikri, saat hadir dalam pengajian di Masjid Pondok Pesantren Riyadlus Sholihien, di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat (2/6/2023) malam.
Roasting adalah istilah di kalangan komedian tunggal (stand up commedian) ntuk meledek atau menertawakan pihak lain dengan candaan yang telah dibuat. Mengawali pengajian itu, Gus Fikri mengaku ‘kuwalat’. “Dulu saya salah satu orang yang menolak Konser Langit Ustaz Hanan Ataki di Jember. Tapi sekarang saya justru kedatangan beliau,” katanya disambut tawa hadirin.
Hanan tersenyum mendengar ucapan itu. Kalangan NU di Jember memang pernah menolak Konser Langit yang dijadwalkan digelar pada 29 Juli 2022. Saat itu Wakil Bupati Muhammad Balya Firjaun Barlaman juga menyampaikan aspirasi penolakan tersebut kepada publik.
Melupakan peristiwa itu, malam ini Hanan berterima kasih kepada Gus Fikri dan para ulama NU di Jember. “Jember bukan tempat saya dakwah, tapi tempat saya belajar,” katanya, disambut tepuk tangan hadirin.
Hanan mengatakan saat ini banyak orang yang percaya diri membuat definisi hak dan batil dengan hanya berlandaskan pada jargon ‘kembali kepada Alquran dan sunnah’. “Ada yang mengatakan ‘jangan fanatik kepada ulama’, karena mereka manusia, kita manusia. Padahal antara ulama dengan orang yang tak berilmu tidak sama,” katanya.
Dalam konteks ini, Hanan tidak akan mendefinisikan sendiri arti ahlussunah wal jamaah. “Itu bukan kapasitas saya. Saya manut kepada dawuh kiai yang mendefinisikan ahlusunnah wal jamaah. Tugas saya sebagai dai di kalangan anak muda adalah menerjemahkan dawuh para kiai dalam bahasa anak muda,” katanya.
“Pangsa pasar Ustaz ini generasi milenial. Saya generasi kolonial,” kata Gus Fikri, disambut tawa hadirin. “Sampeyan kalau saya belum bilang berhenti, jangan berhenti.” Mendengar itu, lagi-lagi Hanan tersenyum.
Saat Hanan bercerita soal Imam Al-Ghozali, penulis buku Ihya’ulumuddin, Gus Fikri langsung menyeletuk. “Kali ini saya benar-benar percaya kalau beliau ini NU. Orang-orang Wahabi dan Salafy tidak suka Al-Ghozali. Bahkan menghina Al-Ghozali. Karena beliau mengidolakan Imam Ghozali, saya semakin yakin beliau telah kembali ke jalan yang benar,” katanya disambut senyum Hanan dan tawa hadirin.
Gus Fikri tak hanya ‘meroasting’ Hanan, tapi juga memintanya membacakan sebagian ayat Alquran dengan tilawah atau membaca dengan baik dan indah. “Ustaz Hanan Attaki mengatakan pernah juara tilawatil quran saat kecil. Kali ini kita minta beliau untuk membacakan Alquran. Cukup satu juz,” katanya disambut tawa hadirin.
Usai acara, Hanan menyebut Gus Fikri bercanda dengan bijak. “Saya anggap candaan-candaan dari para guru itu sebagai nasihat dan ini bagian dari cara kita mengakrabkan diri,” katanya.
“Jadi memang tidak boleh baper, tidak boleh hard feeling. Semua itu bagian dari keakraban, bagian dari humble-nya para kiai. Mau bercanda dengan kita itu berarti beliau menghargai kita. Saya anggap alhamdulillah, masyaallah, bisa bercanda dengan para kiai,” kata Hanan. [wir]






