Jember (beritajatim.com) – Muhammad Iqbal, pengamat politik asal Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur, menyatakan, mustahil kontestasi pemilu mengabaikan politik identitas. Ini terlihat dari pengumuman Ganjar Pranowo menjadi presiden oleh Megawati Soekarnoputri, Jumat (21/4/2023).
Menurut Iqbal, dengan memilih momentum lebaran, pengumuman itu berpeluang meningkatkan elektoral karena jadi bahan perbincangan publik. “Tapi patut diingat dan dicatat publik, pencapresan Ganjar itu sarat simbol politik identitas,” katanya, Selasa (25/4/2023).
Ada dua penanda yang menjadi patokan analisis Iqbal. “Pertama, dengan diumumkan lebih awal pada suasana lebaran, muncul politik identitas nasionalisme-religius, karena disertai ‘gimmick; penyematan peci Soekarno,” katanya.
Kedua, lanjut Iqbal, pemilihan tanggal 21 April 2023 yang merupakan Hari Kartini, menegaskan identitas sosok pahlawan kultur Jawa yang dianggap peduli pada nasib kaum perempuan. “Berpolitik itu pasti mengusung politik identitas,” katanya.
Pemilihan momentum lebaran dan Hari Kartini, menurut Iqbal, juga menunjukkan kecemasan PDI Perjuangan terhadap laju elektoral Anies Baswedan yang makin tinggi. “Maka ketika PDIP dan sekutu koalisinya menentang koalisi pengusung Anies Baswedan dengan mempersoalkan politik identitas, sejatinya itu bukan kedewasaan berpolitik melainkan lebih pada ketakutan kalah dalam kompetisi politik,” katanya.
Pilihan PDIP mencalonkan Ganjar juga bukan hal mengejutkan. Menurut alumnus Universitas Airlangga Surabaya ini, algoritma komunikasi politik selama empat tahun belakangan sudah cukup menunjukkan itu.
“Sedari awal memang hanya Ganjar kader PDIP yang paling layak tanding di arena Pemilihan Presiden 2024. Puan Maharani sebagai sosok trah Soekarno sejak awal hanya dijadikan obyek narasi dramaturgi komunikasi politik,” kata Iqbal.
Dramaturgi ini menampilkan kepada publik seolah-olah ada perpecahan di tubuh PDIP, dengan cara memainkan teknik ‘playing victim; pada diri Ganjar yang berhadapan dengan Puan atau Megawati dan elite PDIP. “Dengan begitu, selama periode 2019 sampai jelang 2024, ekspos media dan percakapan publik di lini massa intens berpusat pada Ganjar. Simpati publik dan potensi elektoral Ganjar pun dapat terus dirawat.,” kata Iqbal.
Ada tujuh narasi dramaturgi ‘playing victim’ terhadap Ganjar yang sukses membentuk persepsi publik. “”Ketujuh narasi drama politik itulah yang sengaja dimainkan oleh PDIP dengan harapan Ganjar bisa selalu meraih simpati dan mewarnai percakapan publik,” kata Iqbal.
Pertama, narasi “konflik celeng vs banteng”. Kedua, menuduh Ganjar sebagai kader PDIP yang “kemlinthi” (sombong, red). Ketiga, ,mempersoalkan kinerja Ganjar sebagai gubernur Jawa Tengah selama delapan tahun dengan penyebutan ‘cuma bisa main pencitraan di media sosial’.
Keempat, tidak diundang dalam peresmian Pasar Legi, Solo oleh Puan Maharani pada 20 Januari 2022. Kelima, tidak diundang di acara halalbihalal PDIP di kantor Panti Marhaen di Kota Semarang pada 7 Mei 2022. Keenam, adanya unggahan swafoto Ganjar sebagai capres seolah melawan Puan yang trah Soekarno dan titah Megawati pada Oktober 2022.
Puncaknya di akhir Maret 2023. “Ganjar menolak tim Israel dan akhirnya Indonesia dibatalkan menjadi tuan rumah Piala Dunia U20 oleh FIFA,” kata Iqbal.
Taktik dramaturgi itu cukup manjur. PDIP berhasil membentuk persepsi dan opini publik. Ganjar konsisten menempati posisi kedua atau bahkan puncak, bersaing dengan Prabowo Subianto dalam semua survei politik.
Iqbal yang juga doktor ilmu komunikasi politik ini menduga konsultan politik PDIP percaya pada teori Cees J. Hamelink. “Publik yang terus-menerus dijejali angka statistik politik bisa percaya bahwa angka itu adalah gambaran realitas yang sebenarnya. Padahal publik tidak menyadari, kalau telah terjadi manipulasi psikologi persepsi melalui permainan narasi yang kemudian digelontor dengan statistik survei politik,” katanya.
Namun kompetisi politik masih jauh dari selesai, kendati momentum lebaran yang sarat dengan politik identitas berhasil direbut Ganjar. “Sekarang tergantung kejutan apa yang akan dimainkan Koalisi Perubahan, koalisi partai pengusung Anies Baswedan, ke depan. Tentu, publik terus menanti dinamika kontestasi yang semakin alot dan ulet ini,” kata Iqbal. [wir]






