Surabaya (beritajatim.com) – ABH atau Angka Buta Huruf adalah proporsi penduduk usia tertentu yang tidak dapat membaca dan atau menulis huruf Latin atau huruf lainnya terhadap penduduk usia tertentu.
Melansir laman resmi Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan Statistik Pendidikan mengenai penduduk buta huruf, terdapat perbandingan jumlah penduduk buta huruf di pulau Jawa.
Jumlah penduduk Indonesia di usia produktif (15-64 tahun) mencapai 274,20 juta jiwa pada 2022. Sebesar 69,16% adalah laki-laki dan 69,08% adalah perempuan.
Baca Juga: Ayah di Surabaya Tega Setubuhi Anak Kandung Berulang Kali
Dibalik besarnya persentase usia produktif tersebut, masih terdapat penduduk buta huruf usia produktif (15-44 tahun) di tiap daerah, termasuk enam provinsi di pulau Jawa.
Di pulau Jawa, Statistik yang ditunjukkan cukup banyak dari segi jumlah. Hal ini karena pulau jawa adalah pulau terpadat di Indonesia dengan jumlah penduduk sebesar setengah dari total seluruh populasi, yakni 151,59 juta.
Berdasarkan data BPS, yang diakses pada Selasa, (18/04/2023), ranking buta huruf di pulau jawa diduduki paling tinggi oleh Jawa Timur dengan angka buta huruf terbanyak mencapai persentase 0,94%.
Angka tersebut menunjukkan hasil yang sama pada 2021, yakni 0,94%. Posisi kedua diisi Jawa Tengah dengan 0,74%, ketiga Banten sebesar 0,33%, keempat Daerah Istimewa Jogjakarta sebanyak 0,22%, kemudian kelima Jawa Barat dengan angka 0,13%, dan terakhir DKI Jakarta keluar sebagai provinsi dengan tingkat buta huruf paling kecil, yakni sebesar 0,08% daripada provinsi lain di pulau Jawa.
Baca Juga: Pemudik asal Tulungagung Tewas di Jalur Tengkorak Jombang
Sedangkan, melansir lama resmi Kominfo Jatim, beberapa kabupaten/kota di Jawa Timur yang memiliki Angka Buta Huruf (ABH) yang cukup tinggi adalah Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Sampang, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Sumenep, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Jember, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Tuban dan Kabupaten Bangkalan.
ABH dalam sistem pendidikan, berfungsi sebagai gambaran dari sejauh mana pendidikan di suatu daerah telah berkembang. Dengan ABH yang masih cukup tinggi berarti sekaligus merefleksikan belum meratanya pendidikan yang diperoleh penduduk di suatu wilayah.
Sebagai provinsi dengan jumlah penduduk yang besar, Provinsi Jawa Timur memiliki ABH yang masih cukup tinggi dibandingkan provinsi lain di Pulau Jawa.
Selain itu, ABH yang tinggi juga ada kaitannya dengan kemiskinan. Jawa Timur memiliki jumlah penduduk miskin cukup tinggi karena kepadatan penduduknya yang juga relatif tinggi.
Sementara itu, pemerintah Provinsi Jawa Timur telah mencanangkan dan melaksanakan berbagai program pembangunan di bidang pendidikan, dengan harapan dapat memberantas buta huruf/buta aksara.
Melansir laman resmi Pemprov Jatim, program yang dimaksud antara lain, bantuan biaya pendidikan bagi siswa miskin, beasiswa, program peningkatan kualitas tenaga pendidik, penyediaan sarana prasarana penunjang pendidikan dan sebagainya, dimaksudkan agar masyarakat dapat memperoleh pendidikan secara menyeluruh dan merata. (kai/ian)






