Bojonegoro (beritajatim.com) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bojonegoro melakukan pengecekan dan pengambilan sampel atas terjadinya semburan gas yang ada di Petak 171 RPH Sukun BKPH Gondang KPH Bojonegoro, turut Desa Jari Kecamatan Gondang Kabupaten Bojonegoro, Selasa (11/04/2023).
Kepala DLH Kabupaten Bojonegoro Dandy Suprayitno mengatakan, semburan gas tersebut tidak membahayakan. Pasalnya lokasi semburan berada jauh dari permukiman. Selain itu potensi terjadinya pencemaran lingkungan juga kecil. Hal itu disampaikan setelah dilakukan pengecekan pH air yang masih diambang normal.
“Setelah dicek pH airnya masih diambang normal, yakni 6,17. Jadi tidak berpengaruh dengan tanaman. Lokasinya juga jauh, masih berjarak sekitar 4 km dari permukiman warga,” ujar Dandy.
Menurutnya, semburan gas dari dalam bumi itu sudah terjadi sejak lama. Saat kemarau gas yang keluar dari celah tanah tidak terlihat, namun saat musim penghujan muncul gelembung. Letupan gelembung-gelembung air itu terjadi karena air mengisi rongga tanah yang terjadi semburan gas.
https://beritajatim.com/peristiwa/semburan-lumpur-campur-gas-di-bojonegoro-sudah-sejak-2016/
Pihaknya menduga, bahwa lokasi semburan gas itu karena masuk jalur Gas Blok Nona yang dikelola Pertamina. Namun, untuk memastikan kandungan gas yang keluar dari tanah tersebut pihaknya telah mengambil sample tanah dan air untuk dicek ke laboratorium di Surabaya.
“Sample tanah dan air dari lokasi sudah kita kirim ke laboratorium yang ada di Surabaya. Kemungkinan setelah lebaran hasilnya sudah bisa keluar,” jelasnya.
Untuk diketahui, di sekitar lokasi semburan gas tersebut terjadi bau menyengat seperti belerang. Selain itu, air yang mengalir dari gelembung tekanan gas itu juga hangat. Gelembung-gelembung air bercampur lumpur itu ada ratusan titik hingga membentuk sebuah lingkaran. [lus/ted]






