Lamongan (beritajatim.com) – Terdapat bangunan Langgar Panggung di Lamongan yang memiliki usia lebih dari satu abad. Langgar yang berada di Jalan Kiai Amin, Kampung Kenduruhan, Kelurahan Sidokumpul, Kecamatan Lamongan, Kabupaten Lamongan itu dikenal dengan sebutan Langgar Dhuwur.
Meski usianya yang terbilang sudah tua, namun bangunan itu hingga kini masih terpelihara dengan baik dan masih digunakan untuk tempat ibadah oleh masyarakat setempat. Bangunan Langgar Dhuwur itu lebih tepatnya dibangun pada tahun 1919 oleh Alm. KH. Mastur Asnawi.
Dzihan Zahriz Zaman, selaku keturunan KH Mastur Asnawi mengungkapkan bahwa bangunan Langgar Dhuwur itu lebih tinggi dari bangunan lain yang ada di sekitarnya. Disebut pula dengan langgar panggung karena langgar itu memiliki tiang penyangga. “Langgar Dhuwur ini didirikan oleh KH Mastur Asnawi. Usianya sudah lebih dari seabad,” kata Zahriz, ditulis Minggu (12/3/2023).
[berita-terkait number=”5″ tag=”lamongan”]
Saat pertama kali didirikan, kata Zahriz, penyangga bangunan Langgar Dhuwur yang berada tepat di tepi jalan itu terbuat dari kayu. Seiring berjalannya waktu, tiang penyangga langgar kemudian direnovasi dengan tiang yang berbahan cor beton. “Seluruh bangunan langgar ini masih asli, mulai dari bentuk dan kayunya, tetap kami pertahankan sampai sekarang, kecuali tiang penyangga yang kami ganti dengan cor semen,” ujar Zahriz.
Secara rinci, Zahriz menjelaskan, bangunan langgar Dhuwur itu memiliki luas sekitar 8 meter persegi. Sedangkan tiang penyangga langgar itu memiliki tinggi sekitar 2 meter.
Uniknya lagi, Langgar Dhuwur yang menggunakan lantai dari kayu itu tidak memiliki pintu utama. Akses masuk ke dalam surau ini melalui tangga yang juga terbuat dari kayu. Tangga itu berada di sisi sebelah selatan langgar.
Kemudian untuk bagian atap langgar, memiliki bentuk khas zaman dulu, yakni berbentuk limasan yang menutupi semua bagian langgar. Atap itu tak mengalami perubahan sejak dulu dan masih dipertahankan hingga sekarang.
“Langgar Dhuwur ini hingga kini masih kita pakai untuk kegiatan keagamaan, seperti ngaji dan lainnya. Kegiatan-kegiatan itu merupakan akar utama didirikannya langgar ini,” bebernya.
Ditambahkan oleh Zahriz, bagian langgar lainnya yang masih dipertahankan hingga saat ini adalah bagian dindingnya yang terbuat dari kayu papan. Di dalam langgar ini, terdapat 2 pintu yang berfungsi sebagai pintu masuk ke gudang dan ruang penyimpanan. Semuanya terbuat dari kayu.
Tak cukup itu, dinding langgar juga memiliki 2 jendela utama. “Bangunan ini sebenarnya dibangun sebagai bangunan majelis taklim yang didirikan oleh almarhum Mbah Yai Mastur Asnawi,” imbuh Zahriz.
Lebih lanjut, Zahriz menerangkan, langgar Dhuwur ini setidaknya pernah mengalami renovasi 3 kali. Pertama, mengganti tiang penyangga panggung yang semula dari kayu diganti dengan cor semen. Kedua, penambahan tegel di bawah langgar. Ketiga penambahan tempat wudhu, dengan mempertahankan sumur, yang juga dibangun berbarengan dengan langgar.
Sementara untuk profil KH Mastur Asnawi, tutur Zahriz, merupakan tokoh Lamongan yang punya kepedulian tinggi terhadap dunia pendidikan, termasuk juga salah satu pencetus pendidikan bagi kaum perempuan di masa kolonial.
Mengenai alasan KH Mastur Asnawi sengaja tidak mendirikan pesantren dan pondok bagi santrinya yang mukim, hal itu lantaran Kiai Mastur berharap, seluruh warga Lamongan bisa ikut mengaji dan menimba ilmu di langgar panggung tersebut.
“Warga sekitar Kenduruhan sini mengenal tempat ini sebagai Langgar Panggung atau Langgar Dhuwur. Kalau secara pasti dibangun tahun berapa saya belum tahu pasti, tapi yang jelas langgar Dhuwur ini dibangun sebelum Masjid Agung Lamongan berdiri, dibangun ketika beliau pulang dari berguru di Madinah,” pungkasnya.[riq/kun]






