Jember (beritajatim.com) – Ada yang tidak berubah selama masa dua tahun pemerintahan Bupati Hendy Siswanto di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Rumah pribadinya di Jalan Sultan Agung, Lingkungan Kampung Ledok, Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates selalu terendam banjir dari Sungai Jompo setiap tahun.
Banjir perdana sebagai bupati dirasakan Hendy tepat pada hari pelantikannya, Jumat (26/2/2021). Dilantik menjadi bupati oleh gubernur di Gedung Grahadi, Surabaya, pada siang hari, sorenya rumahnya menjadi salah satu dari ratusan rumah yang terendam banjir.
Setelah itu, rumahnya kembali dikepung banjir beberapa kali setiap akhir atau awal tahun. Terakhir terjadi pada Jumat (24/2/2023). “Menurut pengalaman kami selama ini, biasanya puluhan tahun nggak pernah rumah kami di Jompo banjir naik sampai dua kali seperti ini. Ini artinya aliran sungai di Kabupaten Jember harus ada penanganan yang komprehensif dan total. Jika tidak, akan ada yang lebih besar lagi dampak banjirnya ke masyarakat. Mohon dukungan Ibu Gubernur. Matur nuwun,” kata Hendy kepada Khofifah via pesan WhatsApp.
Hendy berharap pemerintah pusat memasukkan Jember dalam program penanganan bencana banjir nasional. “Penanganannya harus kolaboratif antara Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Pemerintah Provinsi Jatim, dan Pemkab Jember, dari hulu ke hilir,” katanya.
Ancaman bahaya banjir memang menjadi perhatian Hendy sejak awal dilantik jadi bupati. “Di ujung Panti, di lereng Gunung Argopuro, di situ ada coakan kecil isinya air, dan gunung itu retak. Ada garisnya. Kalau sampai hujan enam hari berturut-turut, mudah-mudahan tidak terjadi, coakan itu akan penuh air,” kata Hendy, dalam malam silaturahmi dengan pejabat dan tokoh masyarakat, di Pendapa Wahyawibawagraha, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat malam (26/2/2021).
[berita-terkait number=”4″ tag=”hendy-siswanto”]
“Kalau retakan itu sampai terbuka, nauzubillahminzalik, itu sampai ke rumah saya terjadinya (banjir) nanti. Air (banjir bandang) akan mengguyur sampai rumah saya. Dulu ada bantiuan dari pemerintah Jepang, retakan itu ditutup plastik. Dan sekarang plastiknya sudah tidak tahu ke mana,” kata Hendy.
Hendy ingin memaksimalkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). “Karena Jember berisiko tinggi untuk kerawanan bencana. BPBD harus ada latihannya. Kita lengkapi dengan equipment yang ada. BPBD bukan hanya mengajak ASN saja, tapi mengajak masyarakat sekitar untuk mencintai lingkungan, mengantisipasi bencana-bencana itu. BPBD harus mencari relawan sebanyak mungkin untuk penanganan kebencanaan,” katanya. [wir/but]






