Mojokerto (beritajatim.com) – Banjir di sejumlah wilayah di Kabupaten Mojokerto akibat hujan deras disertai angin kencang pada, Kamis (9/2/2023) kemarin masih belum surut. Tak hanya merendam area persawahan milik warga, banjir juga merendam jalan desa dan masuk rumah warga.
Seperti yang terjadi di Desa Jotangan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Dari tiga dusun yang ada di Desa Jotangan, dua dusun terendam banjir. Yakni Dusun Gembongan dan Jotangan. Puluhan hektar tanaman padi dan rumah warga teredam banjir.
Warga memilih bertahan di rumah dan enggan mengungsi. Hanya mereka yang memiliki anak kecil memiliki mengungsi ke rumah saudara. Bahkan warga memiliki memarkir kendaraan roda duanya di pintu gerbang masuk dusun lantaran takut mogok.
Salah satu warga, Tika (47) mengatakan, hujan terjadi sekira pukul 13.30 WIB dan sempat berhenti sekira pukul 19.00 WIB. “Isya sempat berhenti tapi kemudian hujan turun lagi sampai malam. Jam 11 an malam, air masuk ke rumah,” ungkapnya, Jumat (10/2/2023).
Masih kata Tika, air banjir setinggi di atas lutut orang dewasa. Banjir tersebut merupakan yang terparah di awal tahun 2023 setelah banjir tahun 2016. Menurutnya, banjir terjadi karena tanggul sungai yang ada di sebelah barat desa mereka yakni Sungai Tambak Agung jebol.
[berita-terkait number=”4″ tag=”banjir-mojokerto”]
“Sungai Tambak Agung di sebelah barat desa itu tanggulnya jebol jadi air masuk ke pemukiman warga. Belum ada yang datang ke sini, warga tidak ada yang mengungsi. Paling yang punya anak kecil yang mengungsi ke rumah saudara, kasih anaknya,” katanya.
Bencana banjir di sejumlah wilayah di Kabupaten Mojokerto tersebut disebabkan luapan dari saluran irigasi dan aliran sungai. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto, banjir terjadi di Kecamatan Kutorejo, Pungging, dan Mojosari. [tin/but]






