Surabaya (beritajatim.com) – Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Surabaya angkat bicara terkait ditemukannya seorang mahasiswa yang tewas diduga akibat menjadi korban kekerasan oleh seniornya.
Direktur Poltekpel Surabaya, Heru Widada tak menampik kabar tersebut. Ia membenarkan jika kejadian tersebut memang terjadi di lingkungan kampusnya. Ia mengaku jika saat ini ada sekitar 12 orang yang tengah diperiksa polisi.
“Untuk sementara, yang dimintai keterangan ada sekitar 9-12 orang, di Polrestabes Surabaya. Sudah berjalan sejak tadi siang hingga saat ini,” ungkap Heru, Senin (6/2/2023).
Heru tak menjelaskan secara gamblang soal kronologi meninggalnya taruna muda atau siswa asal Mojokerto tersebut. Heru menyebut jika pihaknya kini sudah menyerahkan kasusnya kepada polisi.
“Sekali lagi, ini masih dalam tahap pendalaman oleh pihak Polrestabes. Sehingga biarlah nanti dari pihak Polrestabes yang menyampaikan kejadiannya ini, dimana dan seperti apa,” katanya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”penganiyaan-surabaya”]
Mewakili seluruh civitas akademika Poltekpel Surabaya, Heru pun menyampaikan permohonan maaf atas kejadian tersebut. Ia berharap kejadian serupa tak terulang lagi, dan ke depan kasus ini akan menjadi bahan evaluasinya.
“Sekali lagi, kami dari civitas akademika Politeknik Pelayaran Surabaya dan badan pengembangan SDM perhubungan menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya anak didik kami,” ungkap Heru.
Diberitakan sebelumnya, seorang mahasiswa sebuah politeknik di Surabaya ditemukan meninggal dunia pada Senin dini hari (6/2/2023). Dia diduga menjadi korban kekerasan di lingkungan pendidikan.
Mahasiswa itu ditemukan tak bernyawa di kamar mandi kampusnya dengan kondisi penuh darah. Diduga, dia dianiaya seniornya. Hal itu pun dibenarkan Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Mirzal Maulana.
Saat dihubungi, Mirzal mengatakan, orangtua korban telah membuat laporan di Polsek Gunung Anyar. “Iya benar. Sudah melapor ke Polsek Gunung Anyar. Penanganannya di-backup Polrestabes Surabaya,” ujar AKBP Mirzal, Senin (6/2/2023).
Mirzal menjelaskan, jenazah korban sudah dimakamkan sebelum sempat diautopsi. Namun, dari keterangan orangtua korban, terdapat luka lebam di tubuh mahasiswa tersebut.
Untuk memastikan penyebab kematian, menurut Mirzal, petugas akan mengambil langkah membongkar makam korban. Sehingga jenazah korban bisa diautopsi. “Akan melibatkan Tim Forensik, Tim Inafis, kepolisian tempat korban dimakamkan dan tentunya keluarga korban,” imbuh Mirzal. [ipl/ted]






