Jombang (beritajatim.com) – Gus Dur menjadi inspirasi bagi sedikitnya 80 murid dari kalangan muslim dan non muslim di Jombang. Puluhan murid sekolah itu melakukan kegiatan membatik bersama di halaman GKI (Gereja Kristen Indonesia) setempat, Kamis (12/1/2023). Mereka belajar toleransi.
Upaya tersebut dilakukan untuk meneladani pemikiran Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid). Yakni menumbuhkan sikap toleransi di antara sesama. Kegiatan itu diikuti lima sekolah. Masing-masing SD Kristen dan SMP Kristen Petra Jombang, MTs dan MA al-Hikam Diwek serta MI Islamiyyah Perak Jombang.
Kepala Madrasah al-Hikam Diwek Ika Maftuhah Mustiqowati menjelaskan, kegiatan membatik bersama tersebut merupakan langkah konkrit mengajarkan toleransi kepada siswa/siswi berbeda etnis dan agama. Dengan begitu, mereka bisa lebih saling mengenal dan bekerja sama.
“Intoleransi perlu dicegah sejak dini. Sekolah harus berani mengambil inisiatif mempertemukan siswa/inya dengan kelompok lain. Sehingga bibit toleransi bertumbuh sejak dini,” kata juara favorit kepala madrasah berprestasi Kementerian Agama 2022 ini.
Wakil Bupati Jombang Sumrambah dalam sambutannya mengapresiasi kegiatan ini sebagai upaya pendidikan progresif. Menurutnya, setiap agama mengajarkankan nilai toleransi yang perlu diimplementasikan, salah satunya melalui kegiatan sekolah.
Sumrambah mengungkapkan, generasi saat ini sudah selayaknya menyecap nilai toleransi yang telah diwariskan Gus Dur. “Apapun identitas kita, kita adalah saudara. Kita harus bergotong royong,” ujar alumnus Universitas Brawijaya (UB) Malang ini.
[berita-terkait number=”3″ tag=”gus-dur”]
Di tempat yang sama, Aan Anshori, aktifis GUSDURian Jombang, menyatakan kegiatan seperti ini akan terus dilaksanakan. Mempertemukan siswa antaragama adalah kunci menanamkan toleransi. “Toleransi tidak bisa hanya dikhotbahkan tanpa keteladanan,” ujar Aan.
Sementara itu, Jecqeline Adriana, Kepala SMP Kristen Petra menekankan pentingnya kemerdekaan dalam pembelajaran toleransi kepada semua siswa. Apalagi, lanjutnya, saat ini sedang digalakkan Merdeka Belajar oleh Kemdikbud. Nah, kegiatan bersama tersebut adalah bagian dari hal itu.
Acara membatik bersama itu sendiri berlangsung dengan gayeng. Masing-masing murid menorehkan gambar di atas kain putih yang membentang. Aneka warna tercetak di kain tersebut. Satu kain dikerjakan lima sampai enam murid berbeda agama. Mereka bersatu menghasilkan karya bersama.

Usai membatik, mereka juga membentangkan kain yang dipegang secara bersama-sama. Tanpa melihat etnis dan agamanya. Semua penuh warna, seperti kain yang mereka bentangkan. Sebelum membatik, semua peserta juga diajak menyusuri lebih dekat komplek SD Kristen Petra, termasuk gereja yang ada di dekatnya.
Di sana, peserta beragama Islam mendapat kesempatan mengetahui lebih jauh tentang kekristenan dan gereja. “Saya senang dengan kegiatan seperti ini. Dapat teman baru dari sekolah Islam,” kata Kezia Duma, siswi kelas 7 SMP Kristen Petra.
Kezia berkelompok dengan, Adinda Lathifaturrohmah, siswi MTs Al-Hikam. Keduanya saling membantu menghasilkan motif batik berkompetisi dengan kelompok lain. Selain Wabup Jombang Sumrambah, kegiatan ini juga dihadiri perwakikan Dinas Pendidikan Jombang, Kantor Kementerian Agama, dan perwakilan organisasi lintasagama di Jombang. Semua berharap semua bisa meneladani toleransi yang sudah diajarkan Gus Dur. [suf/ted]






