Surabaya (beritajatim.com) – Selama ini kita ketahui bahwa lumba-lumba adalah salah satu makhluk hidup non manusia yang begitu cerdas, selain itu pun ada banyak flora dan fauna yang sama cerdasnya dengan lumba-lumba, seperti gajah, gurita, simpanse dan sebagainya.
Namun, seperti yang disebutkan tadi bahwa makhluk hidup non manusia yang ternyata cerdas tidak hanya hewan, tetapi tumbuhan juga, salah satunya Jamur.
Selama ini bagi banyak orang, jamur terkenal sebagai topping pizza atau lebih jauh juga dikenal atas kengeriannya karena termasuk salah satu tanaman beracun yang berbahaya.
Namun pada kenyataannya, melalui penelitian terbaru ternyata, jamur bisa memiliki kemampuan yang sama dengan Koko si gorila yang terkenal karena bisa menggunakan kosakata lebih dari 1.000 isyarat. Meski tidak sebanyak Koko, para ilmuwan percaya bahwa jamur tertentu mungkin juga dapat berkomunikasi di antara mereka sendiri, menggunakan kosakata yang paling tidak bisa dienskripsi sebanyak 50 kata.
Jamur selalu menjadi studi kasus yang menarik, berkat sifatnya yang unik dan memiliki kemampuan adaptasi yang mengagumkan, selain itu juga kemampuannya memproduksi racun yang menakutkan. Jamur Death Cap Die misalnya, sangat beracun sehingga menyebabkan penyakit yang cukup parah sehingga menyebabkan kerusakan sel yang tidak dapat diperbaiki hanya dalam hitungan jam. Banyak yang dikira keracunan jamur diduga dikarenakan Jamur Death Cap Die, dan salah satu kisah tragis karena jamur Death Cap Die terjadi pada tahun 1534, menimpa Paus Clement VII.
Jamur jelas tidak bisa diremehkan. Apalagi sekarang kita tahu mereka tampaknya berkomunikasi satu sama lain. Jamur pun secara kuantitas jauh lebih banyak dari yang kita bayangkan. Pada tahun 1998, jamur merupakan organisme terbesar yang diketahui di planet ini ditemukan.
Armillaria ostoyae merupakan satu spesies jamur yang diteliti telah berusia hingga 8.650 tahun ditemukan di Blue Mountains of Oregon. Para ilmuwan menguji sampel di wilayah tersebut dan menemukan bahwa setiap individu jamur saling berkomunikasi dan menjadi bagian dari satu organisme raksasa.
Maka mereka juga dikenal sebagai “Jamur Komunal”, Armillaria ostoyae terhubung melalui untaian hifa yang membentuk banyak bagian kecil dari organisme tunggal. Melalui koneksi kecil yang bervariasi inilah organisme raksasa dapat berkembang.
Pengetahuan tentang bagaimana jamur saling berkomunikasi diketahui melalui impuls listrik. Andrew Adamatzky dari UWE Bristol mempelajari impuls ini pada beberapa varietas jamur. Untuk penelitian, beberapa spesies jamur seperti split gill, ghost, enoki, and caterpillar fungi digunakan.
Data dikumpulkan melalui penggunaan elektroda, yang ditempatkan di antara “akar” dari bermacam-macam varietas jamur yang aneh ini. Ditemukan bahwa impuls bahasa mereka bukanlah kode sandi yang acak melainkan membentuk semacam pesan, singkatnya dengan cara yang canggih mereka berkoordinasi dan menunjukkan sedang berbicara satu sama lain.
Lalu apa sebenarnya yang dibicarakan jamur? Mereka tampak terlihat sebagai organisme yang menyendiri, bersenang-senang dalam kegelapan dan lembab, tetapi perhatian utama mereka dalam berkomunikasi mungkin dimiliki oleh semua bentuk kehidupan yakni menjaga diri mereka aman melalui peringatan bahaya dan mendeteksi sesuatu yang enak dan bergizi yang mungkin ada dalam jangkauan.
Pada April 2022, Adamatzky menerbitkan penelitian berjudul “Language of fungi derived from their electrical spiking activity”. Dalam penelitian yang dilakukan pada otak manusia, lonjakan aktivitas semacam itu dan wilayah di mana lonjakan ini terjadi, dapat dan telah memberi tahu kita banyak hal tentang cara kerja pikiran kita sendiri. Adamatzky mengambil metode yang sama untuk menerapkan metodologi serupa saat mempelajari komunikasi jamur.
“Kami menemukan bahwa jamur memiliki pola komumikasi yang beruntut” tulis ilmuwan tersebut, yang menunjukkan tidak hanya banyak aktivitas, tetapi juga banyak aktivitas terkoordinasi. Penemuan terbaru saat ini tampaknya jamur memiliki sesuatu yang penting untuk diceritakan satu sama lain. Lonjakan impuls listrik bervariasi dalam frekuensi dan intensitas antara spesies yang berbeda, dan penelitian berusaha untuk menentukan arti dari peristiwa ini.
Untuk melakukan ini, para peneliti mempertimbangkan panjang kata dan vokal dalam bahasa Inggris. Panjang rata-rata bunyi vokal dalam bahasa Inggris, per laporan, adalah 0,3 detik, dan data penemuan ini menjadi bacaan yang menarik.
Panjang sebuah kata dalam bahasa “jamur”, tampaknya, sangat mirip dengan panjang sebuah kata dalam bahasa manusia. Panjang kata bahasa Inggris rata-rata adalah 4,8 spike (satuan pengukuran yang digunakan dalam penelitian), dan spike dalam deretan bisa mencapai 4,7 spike.
Singkatnya, jamur ini tidak hanya berbicara, tetapi mereka berbicara dengan cara yang mirip dengan ucapan manusia.
Meski jamur memiliki koloni-koloni yang berbeda namun terhubung ini perlu memiliki cara berkomunikasi untuk kelangsungan hidup mereka sendiri.
Studi ini menunjukkan bahwa jika kondisi satu jamur berubah, mungkin jika terancam, maka percakapan berantai akan terjadi dan mengingatkan seluruh jamur lainnya, dengan impuls listrik berjalan seperti yang mereka lakukan di sistem saraf manusia.
Dapat dipahami bahwa tanaman dapat berkomunikasi dan berkoordinasi. Tanaman herbal akan membentuk koneksi dengan apa yang disebut “runners” yang dapat menghubungkannya dalam sistem tanaman yang sama.
Josef Stuefer dari Radboud University menguji keterampilan komunikasi semanggi dengan menyelidiki perilaku ulat. Ketika seekor ulat memakan daun dari salah satu tanaman yang terhubung, makhluk yang mengikuti mereka lebih tidak mau mengkonsumsi lebih banyak tanaman yang dikompromikan.
Mengapa? Karena semanggi telah mengirimkan semacam sinyal marabahaya defensif sebagai tanggapan atas serangan awal!
Stuefer melaporkan bahwa tindakan ini menimbulkan reaksi kimia, membuat sisa daun menjadi lebih keras dan kurang menggugah selera. “Ini adalah sistem peringatan dini, sangat mirip dengan pertahanan militer,” kata peneliti, “setiap anggota jaringan dapat menerima sinyal eksternal tentang bahaya herbivora yang akan datang dan mengirimkannya ke anggota jaringan lainnya.”
Tampaknya masuk akal untuk menganggap ini adalah bagian dari tujuan komunikasi jamur: mengidentifikasi bahaya dan bereaksi terhadapnya. Seperti yang disimpulkan Adamatzky, masih banyak yang harus dipelajari sebelum kita benar-benar dapat memecahkan kode bahasa jamur, betapa canggihnya itu, dan akar dari tujuan sebenarnya. [adg/beq]






