Blitar (beritajatim.com) – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Blitar, Mujib, turut buka suara soal ancaman mundur yang disampaikan Wakil Bupati Rahmat Santoso. Dia menilai ancaman Rahmat memperlihatkan komunikasi dengan Bupati Rini Syarifah macet.
Mujib pun melihat ancaman Rahmat merupakan puncak dari kemacetan tersebut. Terjadi sikap saling apatis antara Rahmat dengan Rini.
“Kalau pandangan saya sebagai perwakilan rakyat melihat hal itu sebagai bentuk macetnya komunikasi antara Bupati dan Wabup Blitar selama ini, mereka saling mendahului bahkan saling apatis, kalau seperti itu bagaimana dengan komunikasi kebijakan strategisnya,” kata Mujib, Selasa (3/1/2022).
Mujib menjelaskan, ajudan merupakan sosok yang harus memiliki loyalitas dan cakap terhadap karakter dari pimpinannya. Sehingga memang diperlukan komunikasi saat proses penunjukan atau pergantian ajudan seorang pimpinan.
Karena itulah, Mujib memaklumi kekecewaan Rahmat. Menurut dia, ancaman mundurnya Rahmat tersebut tidak akan muncul jika terjalin komunikasi yang baik antara Bupati dan Wabup Blitar.
Kondisi ini merupakan tanda bahwa ada ketidakharmonisan di pucuk Pemerintahan Kabupaten Blitar. Jika komunikasi yang sepele saja tidak terjalin bagaimana kebijakan strategisnya bisa berjalan.
“Kalau ajudan itu kan melekat makanya harus ada loyalitas dan kenyamanan antara ajudan dan pimpinan, sehingga wajar kalau Wabup Blitar kecewa,” imbuhnya.
Mujib pun berharap Bupati Blitar Rini Syarifah bersikap lebih bijaksana dalam mengambil keputusan. Selain itu, dia juga meminta agar komunikasi keduanya pimpinan tersebut agar diperbaiki sehingga tidak ada lagi peristiwa seperti ini.
Menurutnya, Bupati-Wakil Bupati ibarat sepasang suami istri yang harus terbuka dalam komunikasi dan bekerja bersama-sama untuk membangun kondusivitas keluarganya. Seharusnya Rini dan Rahmat saling bahu membahu merealisasikan janji kampanye dulu dan bukan justru terlibat friksi seperti ini.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Blitar”]
Di sisi lain, Mujib juga mempersilakan Rahmat mundur dari jabatannya jika sudah tidak terjalin kenyamanan dengan Rini. Meski begitu Mujib berharap Rahmat mempertimbangkan baik-baik keputusannya mundur dari jabatan Wakil Bupati Blitar.
“Bupati dan Wabup itu diibaratkan sepasang suami istri yang harus saling dukung, seharusnya keduanya melihat masih banyak program kampanye yang harus direalisasikan kepada masyarakat,” imbuhnya.
Terkait masalah ini, Mujib segera berkoordinasi dengan seluruh fraksi. Koordinasi ini dilakukan untuk menentukan langkah yang diambil dari DPRD Kabupaten Blitar terkait diperlukan tidaknya pemanggilan Bupati dan Wabup Blitar.
“Kalau soal pemanggilan kami akan berkoordinasi dan berkomunikasi dengan seluruh fraksi dulu apakah diperlukan atau tidak, dan solusinya bagaimana nanti,” pungkasnya. [owi/beq]






