Surabaya (beritajatim.com) – Sungguh miris kondisi yang dialami pasangan Kusaeri (57) dan Titin Asrofin (60). Sudah 20 tahun tinggal hidup di Surabaya yang merupakan kota metropolitan, pasangan ini tak nikmati listrik maupun bantuan.
Kusaeri dan Titin tinggal di Jalan Juwingan, Kelurahan Kertajaya, Kecamatan Gubeng. Kondisi rumah mereka sangat memprihatinkan, hanya berdinding triplek, beratap seng dan bertiang bambu.
Tak hanya itu, mereka memasak makanan dengan kayu bakar. Kondisi ini sangat potensial menimbulkan kebakaran.
“Dulu pernah terbakar akibat ublik yang mengenai tembok triplek rumah,” kata Kusaeri saat ditemui di rumahnya, Senin (12/12/2022).
Sehari-hari Kusaeri hanya bekerja sebagai tukang tambal ban dan stel velg dengan penghasilan per hari Rp30-50 ribu. Selain itu, rumah yang mereka tinggali juga masih menyewa lahan milik orang lain dengan ongkos Rp1 juta setahun.
Kesedihannya makin kompleks, lantaran anak Kusaeri harus meringkuk di jeruji besi akibat tersandung narkoba. Kusaeri mengaku tidak pernah mendapatkan bantuan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.
“Terakhir ya 6 tahun lalu, itupun dari pusat BLT 600 ribuan. Habis itu ndak pernah sama sekali,” katanya.
Kusaeri mengaku tidak pernah terdaftar Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Karena dia tidak mengetahui proses mengurusnya.
Ketika malam menjelang, penerangan rumah memakai power bank. Dan itupun, dicharge saat anaknya bekerja. “Ya hanya ada ini mas,” katanya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”surabaya”]
Sementara itu, Anggota Komisi A DPRD Surabaya Imam Syafii mengaku miris dan prihatin dengan potret kemiskinan di tengah kota pahlawan ini.
Imam berharap kepada Pemkot Surabaya untuk segera mengentaskan permasalahan seperti ini.
“Pasangan suami istri ini kebingungan MBR itu apa? Jangan-jangan mereka belum MBR dan terbukti mereka mengaku belum pernah mendapat bantuan apapun,” kata Imam.
“Jadi yang paling penting bagaimana mereka bisa hidup yang lebih layak. Kemudian hak-haknya sebagai warga Surabaya itu bisa diperoleh seperti warga miskin lainnya,” pungkas eks jurnalis kawakan ini. [asg/beq]






