Surabaya (beritajatim.com) – Pakar Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Suko Widodo menyebut perlu adanya sarana dan prasarana untuk menyalurkan bakat minat anak-anak usia remaja.
Pasalnya, Suko menilai, maraknya kelompok remaja yang menyebut dirinya sebagai gangster belakangan ini, salah satu pemicunya adalah kurangnya infrastruktur untuk mewadahi mereka dalam mengekspresikan diri.
“Fenomena terhadap geng-geng remaja ini seperti tren ya di beberapa kota. Jakarta sudah, dan sekarang di Surabaya. Itu membahayakan bagi ketertiban, keamanan, dan kenyamanan masyarakat. Tapi kita coba cari permasalahannya,” katanya, Jumat (9/12/2022).
Suko mengungkapkan, setidaknya ada dua penyebab maraknya gangster, khususnya di Surabaya. Pertama, yaitu dari internal remaja itu sendiri. Usia remaja, kata dia, adalah usia dimana mereka mencari jati diri, dan mengekspresikan apa yang diinginkan.
“Tetapi (mengekpresikan diri) dengan cara yang tidak tepat, cara yang tidak umum, melanggar norma maupun aturan hukum,” ungkapnya.
Kemudian, pemicu kedua adalah terkait dengan faktor sosial, ekonomi, dan digital. Dimana, mereka saat ini berada dalam transformasi kehidupan dari manual ke ruang digital.
“Nah, apa yang dibutuhkan anak muda itu kemudian harus ada jawaban. Ketika energi mereka kuat, maka harus ada kanalisasi. Biasanya itu muncul pada remaja-remaja yang termarjinal,” sebut Suko.
Lantas apa yang saat ini dibutuhkan oleh para remaja tersebut ?
Suko menjelaskan, bahwa saat ini yang dibutuhkan mereka adalah ketersediaan infrastruktur sosial maupun infrastruktur fisik. Infrakstruktur fisik, misalnya ruang berlatih, seperti fasilitas berolahraga dan berkesenian.
“Infrastruktur lingkungan fisik itu misalnya ya mereka ada ruang berlatih, ruang mereka, misalnya olahraga atau berkesenian, ini harus difasilitasi,” jelasnya.
Pemicu selanjutnya, yakni belum adanya regulasi yang mengatur sebuah tatanan dalam ruang digital. Sehingga, pemicu dari dunia digital yang masuk ke tindakan sosial nyata sedikit terjadi benturan.
“Kita butuh tatanan sosial baru yang harus mengakomodasi perkembangan zaman, yang itu harus memberikan ruang ekspresi bagi remaja kita,” ujar Suko.
[berita-terkait number=”4″ tag=”gangster-surabaya”]
Lebih lanjut, Suko menyampaikan bahwa untuk menekan maraknya gangster di Surabaya, maka diperlukan keterlibatan seluruh pihak dalam pembinaan remaja.
“Lakukan assesmen kebutuhan remaja, sediakan sarana dan prasarana penyaluran bakat dan minat, dan pendidikan ketertiban sosial. Semua pihak harus terlibat dalam pembinaan remaja,” tandasnya. (ipl/ted)






