Ponorogo (beritajatim.com) – Batik ecoprint saat ini tak kalah populer dengan batik tulis dan batik cap. Banyak masyarakat yang mulai membuat batik ecoprint ini.
Selain beda dengan batik pada umumnya, bahan-bahan yang digunakan juga mudah ditemukan disekitar kita. Sebab, batik ecoprint menggunakan bahan alam berupa daun, bunga dan beberapa bumbu dapur, seperti kunyit.
Di SMPN 1 Badegan Ponorogo, siswa-siswi kelas VII mulai memproduksi atau membuat batik ecoprint ini di sekolah. Puluhan kain batik dengan motif daun-daunan dan bunga sudah diproduksi oleh siswa-siswi sekolah yang berada ujung barat Kabupaten Ponorogo ini.
Pantauan beritajatim.com, pembuatan batik ecoprint di SMPN 1 Badegan ini tidak bisa buat dengan sendiri-sendiri. Nampak pembuatannya dilakukan secara bersama-sama. Siswa-siswi mempunyai tugas masing-masing disetiap tahapan-tahapan pembuatan batik ecoprint.
“Membuatnya memang harus bersama-sama, saling membantu setiap tahapan pembuatan batik ecoprint,” kata Afra Kalila Maharani, salah satu siswi Kelas VII SMPN 1 Badegan, Selasa (22/11/2022).
Dalam proses pembuatan batik ecoprint ini, Kalila panggilan Alfra Kalila Maharani dan teman-temannya didampingi oleh guru pembimbing. Guru pembimbing hanya mengarahkan sekiranya ada tahapan yang kurang. Keseluruhan pratek pembuatannya dilakukan oleh dirinya dan teman-temannya.
Siswi berumur 12 tahun itu menyebut bahwa bahan-bahan pembuatan batik ecoprint ini mudah didapatkan di lingkungan sekitar. Seperti dari daun mete, pepaya dan daun jati. Tidak semua daun bisa digunakan menjadi bahan batik ecoprint. Menurut sepengetahuan Kalila biasanya daun-daun yang memiliki getah yang bisa digunakan. Selain itu, juga ada bahan pendukung, untuk pewarnaan bisa menggunakan kunyit dan bumbu dapur lainnya. Bahan pendukung lainnya, ada tawas, kapur, dan tunjung.
“Tidak semua daun bisa digunakan, biasanya daun-daun yang memiliki getah bisa digunakan bahan untuk batik ecoprint,” katanya.
Daun atau bunga yang akan dicetak motif, ditata diatas kain. Penataannya pun bebas, sesuai kreasi dari teman-teman. Jika membutuhkan warna dasar, maka di atasnya diletakkan kain yang telah direndam bahan pewarna alam. Nah warna dikain itulah yang akan menempel di kain utama. Setelah itu semua selesai, baru kain itu dilapisi oleh plastik, baik itu bagian atas maupun bawah kain. Kain yang sudah dilapisi plastik itu kemudian digulung dan dikukus selama 2 jam.
“Setelah dikukus, barulah corak atau motif dari daun dan bunga itu terlihat. Ini belum selesai, kain harus diangin-anginkan kurang lebih 7 hari,” pungkasnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”batik-ecoprint”]
Sementara itu, Kepala SMPN 1 Badegan, Prasetyo Suko Widodo ide awal pembuatan batik ecoprint ini dalam rangka proyek penguatan profil pelajar pancasila. Dimana itu bisa menunjang pendidikan di sekolah tentang pengenalan lingkungan alam sebagai metode Kurikulum Merdeka Belajar.
“Dipilih batik ecoprint karena ramah lingkungan. Selain itu bahannya juga bisa didapatkan di lingkungan sekolah. Seperti daun jati, daun mente dan masih banyak lagi daun dan bunga lainnya,” Prasetyo.

Limbah hasil pembuatan batik ecoprint juga tidak mencemari lingkungan. Dengan begitu, siswa bisa belajar, bagaimana mencintai lingkungan. Batik ecoprint menurut Prasetyo unik, coraknya berbeda-beda.
“Kain ecoprint tidak ada yang sama persis. Sebab penentuan corak atau motif ini sesuai selera dan kreativitas anak-anak,” katanya.
Dengan pembuatan batik ecoprint ini, siswa akan mendapatkan pembelajaran tentang gotongroyong dan kreativitas. Kemudian skill yang didapatkan, bisa membuat siswa itu mandiri. Setelah lulus bisa berwirausaha, mereka bisa memanfaatkan ilmunya ini untuk memproduksi sendiri batik ecoprint.
“Batik ecoprint ini kita kembangkan di sekolah kita. Bahkan batik ecoprint hasil karya anak-anak dijadikan seragam sekolah. Dipakai siswa-siswi setiap hari Sabtu,” pungkasnya. (end/ted)






