Ponorogo (beritajatim.com) – Kondisi ruangan SDN 2 Karangpatihan, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo sangat memprihatinkan. Seluruh ruangan mengalami kerusakan sehingga tidak memungkinkan dimanfaatkan untuk kegiatan belajar mengajar.
Agar aktivitas KBM bisa terus berjalan, SDN 2 Karangpatihan mulai membangun kelas sementara. Ini agar para siswa tidak lagi belajar di tenda darurat BPBD Ponorogo atau menumpang di rumah warga.
Ketua Komite SDN 2 Karangpatihan, Ladi, menyatakan pembangunan kelas sementara dilakukan menggunakan dana hasil donasi. Saat ini, proses pembangunan sudah berjalan.
“Untuk pembangunan kelas sementara ini, sudah dimulai sejak 3 hari yang lalu,” kata Ladi, Kamis (27/10/2022).
Pembangunan kelas sementara ini sebanyak tiga ruang dengan ukuran 4 meter x 4,8 meter. Bahan bangunan ruang kelas sementara ini, untuk atap dari asbes, dinding dari bahan kalsibot dan rangka dari kayu sengon.
“Dikerjakan oleh tukang, Insya Allah empat hari lagi sudah selesai,” ungkap Ladi.
Setelah pembangunan selesai, tiga ruang itu bakal digunakan untuk siswa-siswi kelas 4, 5 dan 6. Sebelumnya, tiga kelas itu menempati tenda darurat.
Sementara untuk siswa kelas 1, 2 dan 3 yang sebelumna harus menumpang di rumah warga, maka digeser lagi ke tenda darurat milik BPBD Ponorogo.
“Jadi yang nempati nanti kelas 4, 5 dan 6. Sementara untuk tenda darurat diisi kelas 1, 2, dan 3. Dari rumah penduduk, dipindahkan ke tenda untuk mereka,” katanya.
Pembangunan kelas sementara ini, pendanaannya bersumber dari donatur dan teman-teman media. Uang dari donasi itu terkumpul sebanyak Rp 13 juta. Ladi berkeinginan untuk membuka donasi lagi, untuk pembangunan tiga ruang untuk kelas 1, 2 dan 3.
“Perlu penggalangan dana lagi untuk pembangunan kelas sementara yang diperuntukkan kelas 1, 2 dan 3,” pungkasnya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Ponorogo”]
Diberitakan sebelumnya, siswa-siswi SDN 2 Karangpatihan di Kecamatan Pulung, akhirnya bedol dari ruang kelasnya masing-masing. Kegiatan belajar mengajar (KBM) kini dilakukan di tenda darurat milik BPBD Ponorogo dan nebeng di rumah warga. Hal itu terpaksa dilakukan oleh 70an siswa SD tersebut, karena semua ruang kelas rusak dan tak layak untuk ditempati lagi. Siswa kelas 4,5, dan 6 belajar di tenda yang dipasang di halaman sekolah. Sementara untuk siswa kelas 1,2 dan 3 belajar di rumah warga yang tempatnya dekat dengan sekolah.
“Yang pindah hari itu kelas 1,2, dan 3 menempati rumah warga yang bersedia meminjami untuk KBM anak-anak. Sementara untuk siswa kelas 4,5, dan 6 sudah pindah ke tenda darurat milik BPBD Ponorogo sejak hari Jumat (26/8/2022) lalu,” kata Kepala SDN 2 Karangpatihan, Suwandi.
Semua ruang kelas di SDN 2 Karangpatihan keadaannya membahayakan. Ruang kelas 1 hingga 6 mengalami kerusakan. Sehingga pihak sekolah melakukan pengkondisian untuk pemindahan KBM. Supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Suwandi tidak ingin anak-anak didiknya merasa was-was saat belajar di dalam ruang kelas.
Dia menambahkan, dari 8 ruangan yang ada di SDN 2 Karangpatihan, hanya satu ruangan, yakni ruang guru yang masih digunakan. Sebab, atapnya belum terlalu rusak. Sementara untuk ruang kelas 1 hingga 6 dan satu ruangan perpustakaan dikosongkan, karena memang sudah rusak. Bahkan teras kelas juga roboh sendiri. Beruntung, kejadiannya pada malam hari, sebelum ada siswa yang datang.
“Kita akan kasih pembatas, supaya anak-anak tidak boleh bermain di dekat ruang-ruang kelas yang kondisinya rusak. Beruntung teras roboh beberapa waktu lalu terjadi pada malam jari saat tidak ada orang,” pungkasnya. [end/beq]






