Mojokerto (beritajatim.com) – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) bersama Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan (DiskopUKMPerindag) Kota Mojokerto melakukan sosialisasi terkait relokasi bagi pedagang yang masih membuka lapak di badan jalan dan jalur pedestarian di kawasan Pasar Tanjung Anyar.
Selain memberikan sosialisasi, para pedagang juga diberikan surat undangan untuk dilakukan pertemuan terkait rencana relokasi tersebut. Ratusan pedagang tersebut menggelar barang dagangannya di badan jalan dan jalur pedestarian yaitu, Jalan KH Nawawi, Jalan Residen Pamuji, dan Jalan HOS Cokroaminoto.
“Hari ini merupakan bagian dari rangkaian sosialisasi, himbauan yang sudah kami mulai sejak bulan Agustus. Jadi bulan Agustus, minggu keempat, retribusi sudah dihentikan. Sudah ada kesepakatan dengan tim relokasi pedagang sudah dipetakan, sudah didata,” ungkap Kepala DiskopUKMPerindag Kota Mojokerto, Ani Wijaya, Jumat (21/10/2022).
Dari 165 pedagang, lanjut Ani, sebanyak 106 pedagang yang sudah mendaftarkan untuk pindah lokasi. Masih ada 59 pedagang yang rata-rata pedagang buah yang belum mendaftar untuk pindah lokasi. Dari 16 pedagang tersebut dilakukan pemetaan pedagang dari Kota dan luar Kota Mojokerto.
“Karena sebetulnya hak prioritas itu ada di warga kota (Kota Mojokerto). Sehingga warga kota diprioritaskan untuk pindah ke dalam Pasar Tanjung Anyar. Sedangkan sisanya, ini kita bagi. Pedagang buah di Pasar Kranggan, kemudian pedagang sembako ada di Pasar Prapanca termasuk sayur,” katanya.
Sementara untuk pedagang makanan dan minuman, lanjut Ani, direlokasi di Pasar Kliwon. Pihaknya memberikan deadline secara bertahap, mulai dari sosialisasi tentang Perda Nomor 2 Tahun 2022 tentang Penataan Pedagang sudah dilakukan sejak bulan Agustus 2022 lalu.
“Kemudian kita lanjutkan dengan mengundang pedagang untuk sosialisasi tatap muka dua kali sudah kami lakukan, setelah itu berjarak setiap tujuh hari, tujuh hari, kami berikan himbauan untuk segera mendaftarkan ke lokasi relokasi-relokasi dan terakhir tanggal 22 Oktober, besok,” jelasnya.
Menurutnya, salah satu kendala di Pasar Tanjung adalah tidak adanya tempat loading atau bongkar muat yang memadai. Selama ini, lanjut Ani, bongkar muat difasilitasi di Jalan Kerto Raharjo, Jalan Kopral Usman dan sebagian di Jalan Residen Pamuji, Jalan Sersan Harun, Jalan KH Nawawi dan Jalan HOS Cokroaminoto.
“Ini yang juga ingin kami tertibkan jadi setelah merelokasi pedagang, ini juga akan kita tertibkan untuk bongkar muat untuk loading barang. Ini tadi ada masukan baik dari salah satu pedagang dan diamini oleh pedagang yang lain, untuk loading barang mereka justru minta di Rest Area Gunung Gedangan,” ujarnya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Mojokerto”]
Masukan tersebut akan disampaikan ke Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari dan Sekretaris Daerah Kota (Sekdakot) Mojokerto, Gaguk Tri Prasetya selalu pengelola barang. Pihaknya juga akan membicarakan lebih lanjut dengan Satpol PP dan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Mojokerto terkait masukan tersebut.
Kepala Satpol PP Kota Mojokerto Modjari menambahkan, pihaknya akan melakukan penertiban secara persuasif terhadap pedagang yang berpotensi menolak pengembalian fungsi trotoar sebagai hak pengguna jalan. “Kita berupaya semaksimal mungkin agar penertiban jangan sampai terjadi tindakan represif,” tambahnya.
Pihaknya akan mengedepankan pendekatan terhadap pedagang. Satpol PP Kota Mojokerto akan mendirikan pos pemantauan di area penertiban dan operasi secara berkala dengan tujuan agar pedagang tidak kembali berjualan di badan jalan dan jalur pedestarian.
Sementara itu, salah satu pedagang, Kasiono (57) mengatakan tidak setuju dengan rencana relokasi tersebut. Namun ia terpaksa menyetujui meskipun ia khawatir sepi pembeli. “Kalau dipecah-pecah (tematik) kasihan. Ini kan pasar, ramainya di sini ya agak susah. Jelas kabur, pemasukan kurang,” tuturnya.
Para pedagang berharap sebelum dilakukan relokasi, pedangan sudah diberikan tempat relokasi yang layak. Ia berharap bisa tetap di tempat yang tempati selama ini, hanya tempat berjualan dimundurkan bukan di relokasi ke tempat yang baru karena dikhawatirkan akan sepi pembeli.
“Ini kan jalannya sudah luas, ya mundur saja. Tetap di sini, dirapikan saja. Mau orang-orang ini, tidak akan maju lagi. Kasihan kalau di taruh di sana, di sana. Jelasnya tidak laku, di sini kan pasar. Beli sayur di sana, beli buah di sana. Kan tidak enak, enak di sini jadi satu yang penting rapi,” tegasnya. [tin/beq]







