Surabaya (beritajatim.com) – Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa menegaskan, karakter inisiatif, kolaborasi dan inovasi (IKI) sangat kuat di Jatim. Maka Jatim mampu menjadi game changer atau pengubah permainan atau keadaan.
“Sosok game changer inilah yang menjadi penentu saat tengah berada di persimpangan antara maju dan mundur, antara hidup dan mati, antara dinamis atau statis. Maka dari itu, saya mengajak seluruh masyarakat Jatim, lintas generasi, lintas bidang, lintas kemampuan, lintas disiplin ilmu, lintas instansi, lintas organisasi, untuk terus bergerak.
Mengambil peran yang positif, produktif, dan inovatif, menjadi sosok-sosok game changers baru yang dapat memberikan sumbangan penggerak, pengubah dan pencipta bagi Jawa Timur, bagi lndonesia dan bagi dunia,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga menyampaikan berbagai prestasi yang berhasil diraih Jatim selama di bawah kepemimpinannya. Di antaranya, yaitu selama periode Februari 2019 sampai dengan saat ini, Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah berhasil meraih 198 penghargaan, baik internasional, nasional maupun regional.
Selain itu, pasca pandemi Covid-19 perekonomian Jawa Timur cepat bangkit di atas rata-rata nasional. Hal ini terbukti bahwa pada Triwulan II tahun 2022 tumbuh impresif ditunjukkan dengan capaian pertumbuhan ekonomi Jawa Timur sebesar 5,74 persen (y-o-y) dan tertinggi se-Pulau Jawa atau tumbuh di atas rata-rata nasional yang mencapai 5,44 persen (y-o-y).
Adapun realisasi investasi Triwulan II tahun 2022 di Jawa Timur menunjukkan capaian kinerja yang menggembirakan. Tercatat realisasi investasi mengalami kenaikan pada triwulan II tahun 2022 (yoy) sebesar 69,2 persen. Angka ini sekaligus melebihi pertumbuhan investasi nasional sebesar 35,5 persen.
Jawa Timur juga semakin memperkuat predikatnya sebagai Provinsi Lumbung Pangan Nasional dengan keberhasilannya meraih status sebagai provinsi dengan produksi padi nomor satu nasional, yaitu sebesar 9,94 juta ton gabah kering giling.
Di samping itu, Jatim merupakan provinsi dengan kontribusi nomor satu nasional untuk komoditas jagung, cabe rawit, bawang merah, mangga, pisang, dan mawar. Demikian pula untuk komoditas pangan lain yang meliputi sapi potong, sapi perah, ayam petelur, daging, telur, susu, gula kristal, tebu, tembakau dan garam yang juga merupakan nomor satu nasional. Jawa Timur juga merupakan eksportir tertinggi nasional untuk komoditas perikanan meliputi tuna, cakalang, tongkol dan udang.
[berita-terkait number=”3″ tag=”khofifah”]
Dalam hal pertumbuhan ekonomi inklusif yang ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan menurunnya angka kemiskinan. Maka, pada periode Maret 2021-Maret 2022, penurunan kemiskinan sebanyak 391.400 jiwa (28,3 persen), merupakan capaian penurunan tertinggi di antara semua provinsi di Indonesia.
Penurunan kemiskinan tersebut berseiring dengan meningkatnya status kemandirian desa dari tahun 2021 sebesar 697 Desa Mandiri menjadi 1.490 Desa Mandiri di tahun 2022, atau meningkat 113,77 persen, sekaligus zero desa tertinggal dan desa sangat tertinggal. Jumlah desa mandiri Jawa Timur merupakan yang tertinggi di lndonesia.
Sedangkan dalam hal kualitas birokrasi, berkomitmen untuk perbaikan tata kelola pemerintahan dalam mewujudkan pemerintahan yang efektif, efisien, bersih dari KKN. Hal ini juga dibuktikan dengan perolehan predikat WTP selama kurun waktu tujuh tahun terakhir (2015-2021).
Jawa Timur juga telah membuktikan berkinerja terbaik dalam penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM) tahun 2021 dengan capaian sebesar 99,36 persen yang merupakan capaian tertinggi nasional.
“Berbagai capaian dan prestasi tersebut menjadi penyemangat bagi seluruh rakyat Jawa Timur untuk bisa lolos dari situasi global yang penuh ketidakpastian. Insya Allah dengan segenap kemampuan yang kami miliki, Jawa Timur optimis bangkit,” tukasnya.
Khofifah juga menjelaskan bahwa capaian prestasi pembangunan di Jawa Timur ini merupakan hasil kerja keras semua elemen strategis di Jawa Timur, khususnya DPRD Jatim, Forkopimda Jatim, bupati/walikota se-Jatim, perguruan tinggi, media, tokoh agama, pelaku dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, organisasi profesi, instansi vertikal dan semua warga Jawa Timur secara keseluruhan. (tok/*)








