Bojonegoro (beritajatim.com) – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Bojonegoro merasa terganggu dengan adanya pembangunan trotoar dan gorong-gorong yang ada di seputaran kota. Hal itu disebabkan karena pipa air yang putus dan tidak segera dilaporkan kepada petugas teknis PDAM.
Direktur Utama PDAM Bojonegoro M Khoirul Anwar mengatakan, adanya pembangunan trotoar dan gorong-gorong di seputaran kota membuat sejumlah jaringan PDAM putus. Putusnya jaringan PDAM itu sehingga mengganggu distribusi air ke pelanggan. Selain mengganggu kelancaran distribusi air juga menambah potensi kehilangan air.
Menurut pria asal Kabupaten Jember itu, kebanyakan jaringan yang rusak akibat pembangunan trotoar dan gorong-gorong ini jaringan persil atau saluran yang ke pelanggan. Pipa-pipa itu rusak ketika ada pencabutan akar tanaman penghijauan. Beberapa pipa yang sudah keropos dan rusak, oleh PDAM kemudian diganti menggunakan pipa jenis HDPE agar lebih fleksibel.
[berita-terkait number=”5″ tag=”PDAM-Bojonegoro”]
“Sedikit terhambat pendistribusian air saat ada pipa utama yang bocor. Apalagi jika pelaksana proyek tidak segera melaporkan,” ujarnya, Senin (3/10/2022).
Adanya jaringan pipa PDAM yang putus juga mempengaruhi jumlah kerugian kehilangan air. Tahun 2022 ini, PDAM memperkirakan kehilangan air sebesar 25 persen dari total distribusi ke pelanggan. Potensi kehilangan air selain dari pelaksanaan proyek pembangunan fisik trotoar dan gorong-gorong juga adanya perawatan jaringan.
“Estimasi sesuai yang kami pasang di RKA tahun ini potensi kehilangan air sebesar 25 persen. Diharapkan tidak lebih dari estimasi, karena selalu dilakukan pembenahan baik dari produksi dan jaringan. Semua terintegrasi dibenahi,” katanya.
Sesuai dengan penghitungan PDAM, pada triwulan kedua, kebocoran jaringan sudah ditemukan 100 titik kebocoran tersebar di 11 cabang yang sudah ditangani. Kebocoran jaringan bahkan di pipa besar ukuran 10-12 dim. Kebocoran jaringan itu, selain dampak pembangunan juga karena struktur tanah yang labil dan kualitas pipa di daerah labil masih pakai jenis PVC. Sehingga pengaruhknya sering pecah dan sudah termakan usia.
“Tribulan kedua sudah kehilangan 12 persen air. Dari 25 persen itu dampak dari pembangunan sekitar 2 persen. Antisipasi kerugian air, ketika pipa CDU yang bocor, jaringan langsung kita matikan, sehingga tidak terlalu banyak kehilangan air, hanya distribusi ke pelanggan terganggu,” terangnya.
Sementara diketahui, saat ini jumlah pelanggan secara keseluruhan di Kabupaten Bojonegoro sebanyak 43 ribu pelanggan. Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, PDAM membutuhkan air sebanyak 688 ribu meter kubik per bulan. Sedangkan, untuk jumlah pelanggan di wilayah kota ada 11 ribu pelanggan dan dalam sebulan membutuhkan 176 ribu meter kubik air. [lus/kun]






