Lamongan (beritajatim.com) – Bagi masyarakat Lamongan dan sekitarnya pasti sudah sangat familiar dengan mitos yang ada di Gunung Pegat, Desa Karangkembang, Kecamatan Babat. Kawasan Gunung Pegat yang dibelah oleh Jalan Raya Babat-Jombang itu menyimpan mitos yang hingga saat ini masih diyakini sebagian orang.
Mitos ini memiliki kaitan erat dengan calon pengantin. Agar pernikahannya langgeng, calon pengantin yang akan melintasi jalan membelah Gunung Pegat diharuskan melempar seekor ayam.
Meski sulit untuk dinalar, beberapa orang percaya ada kekuatan gaib di Gunung Pegat. Kekuatan ini diyakini bisa menyebabkan banyak petaka apabila calon pengantin (catin) tidak memenuhi syarat yang sudah berlaku selama ini.
Mitos ini disandarkan pada kata ‘pegat’ yang tersemat pada nama gunung tersebut. Dalam Bahasa Jawa, kata ‘pegat’ berarti ‘cerai’ atau ‘terpisah’.
“Ya, mitos tersebut memang ada sudah lama dan kalau ditanya sejarahnya bagaimana hingga ada mitos itu ya tidak tahu, karena dari dahulu juga sudah seperti itu,” kata Supoyo (80), sesepuh desa Karangkembang, Kecamatan Babat.
Meski belum diketahui pasti latar belakang dan sejak kapan mitos soal perceraian itu berkembang, Supoyo mengaku, hingga kini masih banyak masyarakat yang meyakininya. Baik mereka dari Lamongan sendiri maupun luar daerah.
“Hingga saat ini masih banyak rombongan calon pengantin yang melemparkan ayam saat melewati kawasan Gunung Pegat ini, baik orang Lamongan sendiri maupun orang Bojonegoro, Tuban dan Jombang,” tandas Mbah Poyo, sapaan akrabnya.
Mengenai ciri-ciri maupun ukuran ayam yang harus dilempar di Gunung Pegat ini, Mbah Poyo menuturkan, tak ada keharusan tertentu. Syarat utamanya hanya ayam hidup.
“Ukuran ayam yang dilepas tersebut bebas, besar atau kecil yang penting melepas ayam hidup sebagai syarat. Sejak saya kecil tradisi ini sudah ada, gak tahu bagaimana asal-usulnya,” tambahnya.
Hal senada juga dikatakan Kepala Desa Karangkembang, Andri. Hingga saat ini, pihaknya masih sering menjumpai ada iring-iringan calon pengantin yang melepas ayam di Gunung Pegat.
“Sampai saat ini masih banyak, Mas, calon pengantin yang mempercayai dan membuang ayam saat melewati Gunung Pegat ini. Bahkan, saya dulu juga seperti itu saat menjadi calon pengantin dan melewati jalan Gunung Pegat ini untuk menuju ke Madiun,” aku Andri.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Lamongan”]
Andri pun mengaku tak mengetahui kapan awal mula mitos ini ada. Soal percaya atau tidak, dia mengembalikan kepada pribadi masing-masing mengingat mitos ini hanya diketahui dari mulut ke mulut.
“Ada juga rombongan pengantin yang tak mau melewati kawasan Gunung Pegat ini, akhirnya mereka mencari jalan alternatif lain dan memutar jauh lewat Bojonegoro atau Lamongan Kota. Percaya atau tidak, semua ini tergantung pribadi masing-masing,” bebernya.
Sementara itu, salah satu warga Tuban, Heru, mengakui jika ada beberapa tetangganya yang memang melepaskan ayam saat melewati jalan di Gunung Pegat untuk melangsungkan pernikahan di Jombang.
Terlepas dari benar atau tidaknya mitos ini, Heru menyebut tetangganya memilih untuk tetap melepas ayam di kawasan Gunung Pegat. Hal itu dilakukan hanya untuk menghormati tradisi yang masih berlangsung hingga saat ini.
“Tetangga saya waktu itu hendak melangsungkan pernikahan di Jombang dan harus lewat jalan ini, dulu juga melepaskan ayam. Kalau menurut saya, lebih baik kehilangan ayam daripada kehilangan anggota keluarga atau pernikahannya yang akan mereka langsungkan akan terkena masalah hingga berujung pegatan (cerai),” paparnya. [riq/beq]







