Probolinggo (beritajatim.com) – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang diumumkan pemerintah, menurut KH. Zuhri Zaini, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo, merupakan urusan pelik yang dialami oleh masyarakat. Terlebih rakyat kecil, itu sebabnya terjadi berbagai penolakan di hampir seluruh wilayah di Indonesia.
Ulama yang memiliki ribuan santri itu mengingatkan tentang penyampaian pendapat. Dia mencontohkan ketika mengerjakan salat berjamaah, saat imam (pemimpin salat) melakukan kesalahan berarti harus diingatkan dengan cara-cara yang santun.
Cara menyuarakannya pun menurut Kiai Zuhri harus murni demi kepentingan masyarakat dan jangan sampai ditunggangi bermacam kepentingan. “Jadi harus berhati-hati dalam mengawal kepentingan rakyat, bukan atas kepentingan politik tertentu,” dawuhnya.
Kiai Zuhri mengingatkan, kepentingan masyarakat berbeda-beda dan tidak sama. Dia mencontohkan lagi, seperti halnya orang yang berjualan jagung bakar pasti menginginkan musim hujan terus menerus. Sedangkan orang yang berjualan es menginginkan musim kemarau berlanjut.
Di samping itu, pemerintah harus bersikap jujur dan transparan dalam membantu rakyat dengan kebijakan yang sudah dikeluarkan, dengan alasan yang jelas dan memberikan solusi kepada orang yang memang terkena dampak.
[berita-terkait number=”4″ tag=”harga-bbm-naik”]
Solusi yang dia tawarkan ialah setiap konsumen yang berhak mendapatkan BBM bersubsidi dan diberikan kartu khusus.
Hak rakyat untuk mengingatkan pemerintah dalam bentuk menyuarakan pendapat, menurut kiai yang penuh dengan kesederhanaan itu, merupakan perbuatan baik yang diperbolehkan dan dijamin oleh agama dan undang-undang.
“Tapi jangan anarki dan tolong ada relawan yang mendata orang-orang yang terdampak,” imbuh Kiai. [tr/but]






