Bojonegoro (beritajatim.com) – PT Pertamina Persero mengungkapkan bahwa porsi terbesar dalam produksi BBM adalah dari segi pembelian minyak mentah. Biaya pembelian minyak mentah mencapai 92 persen dari biaya pokok produksi bahan bakar minyak (BBM).
Investasi upgrading kilang minyak Pertamina yang telah dijalankan dalam 4 tahun terakhir dinilai berhasil meningkatkan fleksibilitas minyak mentah. Sejak tahun lalu, kilang Pertamina juga mampu memproses minyak mentah dengan sulfur content lebih tinggi yang sumbernya banyak dan harganya lebih murah.
“Inilah langkah strategis Pertamina yang telah berhasil secara signifikan menurunkan biaya produksi BBM,” ujar Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Nicke Widyawati, dalam siaran persnya, Rabu (31/8/2022).
Pertamina hingga Juli 2022 mengklaim berhasil menghemat biaya operasional sekitar Rp 6 triliun di tengah kenaikan harga minyak dunia yang berdampak pada kenaikan biaya produksi BBM.
Nicke juga menjelaskan perusahaan energi saat ini dihadapkan pada situasi yang berat di tengah disrupsi mata rantai pasokan energi global sebagai dampak konflik Rusia dan Ukraina. Dimana mobilitas perdagangan global yang menuju pemulihan pasca pandemi tersentak dengan keterbatasan pasokan yang berujung krisis energi.
Kebijakan Pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat melalui subsidi BBM merupakan langkah yang tepat, sehingga berhasil mempercepat pemulihan ekonomi. Hal tersebut salah satunya tercermin dari peningkatan konsumsi BBM untuk mobilitas masyarakat serta aktivitas usaha.
Namun di sisi lain, peningkatan konsumsi BBM tersebut menyebabkan kenaikan beban subsidi Pemerintah. “Kami memahami beratnya beban subsidi Pemerintah, untuk itu Pertamina melakukan berbagai program penghematan biaya dalam rangka membantu menurunkan beban subsidi Pemerintah,” tutur Nicke.
Selain itu, efisiensi energi di seluruh area operasional dari hulu ke hilir juga memberikan penghematan biaya yang signifikan, selain tentu saja memberikan kontribusi pada penurunan emisi karbon. “Terobosan pasca restrukturisasi yang juga signifikan untuk mencapai efisiensi Pertamina Group adalah sentralisasi pengadaan barang dan jasa, serta integrasi dan optimalisasi seluruh aset dari hulu ke hilir,” ungkapnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”bbm”]
Tidak hanya menghemat biaya bahkan Pertamina Group juga berhasil meningkatkan pendapatan dengan melakukan ekspor produk-produk bernilai tambah tinggi, seperti HVO (D100 berbasis kelapa sawit) dan Low Sulfur Fuel Oil. Demand dunia terhadap produk-produk low carbon terus meningkat.
Dengan upgrading Kilang yang telah dilakukan, saat ini Pertamina mampu menghasilkan produk-produk tersebut, sehingga berhasil menangkap peluang yang sangat prospektif.
“Bagi kami, penghematan biaya bukan sekadar cutting cost tapi mengubah operating model serta memperbaiki bisnis proses, sehingga seluruh program tetap terlaksana dan seluruh target tercapai, namun dengan biaya yang lebih rendah,” ungkapnya.
“Pertamina akan terus melakukan berbagai upaya penghematan biaya, yang sekaligus mampu menurunkan emisi karbon, sehingga mendukung transisi energi Pertamina dan Indonesia,” pungkas Nicke. [lus/but]






