Mojokerto (beritajatim.com) – Cara unik dilakukan warga Desa Mlaten, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto saat barikan malam peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke 77. Warga berkumpul di Lapangan Desa Mlaten untuk doa bersama dengan membawa makanan dengan tempat dari cobek.
Yakni gerabah yang terbuat dari tanah liat yang merupakan produk hasil warga Desa Mlaten. Sebanyak 1.000 cobek dikumpulkan warga di lapangan desa untuk didoakan sebagai bentuk rasa syukur atas kemerdekaan yang telah diraih para pejuang. Tidak hanya makanan namun juga ada buah-buahan dibawa warga.
Beralaskan tikar ratusan warga doa bersama, sementara di sekitar lokasi tampak obor kecil ditata berjajar. Wakil Bupati (Wabup) Mojokerto, Muhammad Al Barra turut berbaur dalam barikan yang digelar warga Desa Mlaten. Wabup juga makan bersama dengan warga.
Wabup Mojokerto, Muhammad Al Barra mengatakan, warga Desa Mlaten khususnya sangat antusias untuk memperingati HUT RI ke-77. “Warganya berkumpul dan kemudian kita makan bersama dengan tema 1.000 cobek. Cobek sendiri merupakan produknya Desa Mlaten,” ungkapnya, Selasa (16/8/2022).
Gus Barra (sapaan akrab, red) berharap, dari kegiatan tersebut produk cobek di Desa Mlaten dikenal semakin luas lagi. Gus Barra meminta kepada warga khususnya Kabupaten Mojokerto agar mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif dan sudah saatnya generasi muda menjadi tonggak kemajuan bangsa.
“Peringatan HUT RI ke 77, kita sebagai warga yang cinta tanah air dan bangsa, kita menghormati jasa-jasa para pahlawan. Alhamdulillah pada malam hari ini bisa terlaksana dengan baik dengan kita mengambil tema yaitu 1.000 cobek,” kata Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Mlaten, Dwi Siswarini.
Desa dengan tiga dusun ini yakni Dusun Mlaten, Sambiroto dan Mbedog memang terkenal dengan produksi gerabah. Dalam moment peringatan HUT RI ke-77, lanjut Kades, setiap dusun menggelar barikan di jalan dan masjid. Sementara puncak acara digelar di Lapangan Desa Mlaten.
“Tujuan kami itu adalah untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dengan hasil kerajinan yang ada di desa ini. Paling tidak kalau orang ke Mlaten itu terkenalnya adalah dengan cobeknya, padahal juga masih banyak lagi hasil gerabah warga Desa Mlaten,” ujarnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”mojokerto”]
Produksi gerabah di Desa Mlaten ada di Dusun Mlaten dengan kurang lebih 100 pengrajin. Namun saat ini, pengrajin gerabah menyebar ke dua dusun yang ada di Desa Mlaten. Tidak hanya produksi cobek, para pengrajin juga memproduksi beberapa jenis gerabah lainnya.
“Jumlah pengrajin gerabah di Dusun Mlaten kurang lebih 100, untuk penduduk Desa Mlaten kurang lebih 5.425 jiwa. Untuk produksi, warga mengerjakan ada beberapa karyawan dilihat kemampuan dari masing-masing pengusaha. Satu orang bisa 300-500 cobek setiap harinya, mereka sudah pelanggan masing-masing,” jelasnya. [tin/but]







