Jember (beritajatim.com) – Muhammad Balya Firjaun Barlaman, Wakil Bupati Jember yang terpilih menjadi Ketua Cabang Pagar Nusa Jember, meminta semua kader dan pengurus perguruan silat yang berafilisiasi dengan Nahdlatul Ulama itu agar mematuhi garis organisasi.
“Saya berharap semuanya satu komando. Kalau memang ada yang tidak mau satu komando ya sudah. Jangan merecoki. Keuntungannya apa dengan tidak satu komando? Untuk menyatukan itu, karena umumnya penyebab perpecahan dan perbedaan pendapat yang paling mudah dari politik. Maka saya tidak ingin organisasi dibawa-bawa ke politik,” kata Gus Firjaun, sapaan akrabnya, ditulis Selasa (5/7/2022).
Semua kader Pagar Nusa memiliki hak berpolitik. “Bahwa personalnya ingin menggunakan hak politiknya silakan. Tapi tidak dengan organisasi. Itu garis saya. Siapapun harus (patuh), kalau masih ada yang bawa-bawa ini, saya akan ambil tindakan sesuai aturan yang ada di organisasi,” kata Gus Firjaun.
[berita-terkait number=”5″ tag=”gus-firjaun”]
Gus Firjaun terpilih dalam Konferensi Cabang Pagar Nusa Jember yang digelar di Pondok Pesantren As-Siddiqi Putra, Minggu (5/6/2022). Namun sebagian delegasi pengurus anak cabang mempersoalkan keabsahan caretaker yang dijabat Ketua Pimpinan Wilayah Pagar Nusa Jawa Timur Abdul Muchid dalam menyelenggarakan konferensi tersebut.
Mereka melakukan aksi walkout saat konfercab berlangsung. Delapan pengurus anak cabang tingkat kecamatan kemudian melayangkan surat protes kepada Pimpinan Pusat Pagar Nusa. “Jika dalam dua kali 24 jam tidak ada respons, kami akan melakukan langkah-langkah politik. Bisa saja sesuai aspirasi kawan-kawan, kami akan membentuk pengurus cabang Pagar Nusa,” kata Sigit Mustofa, delegasi Pagar Nusa Kecamatan Silo, Senin (4/7/2022).
Apa yang akan dilakukan Gus Firjaun untuk menyelesaikan konflik yang saat ini terjadi? “Saya akan mengakomodir keseluruhan, karena formaturnya juga masih belum bekerja. Mungkin setelah lebaran Idul Adha. Kami akan mengakomodir seluruhnya,” katanya.
Gus Firjaun mengaku tak ingin main-main dalam membenahi organisasi, sekaligus mencegah perpecahan. “Saya ingin memperbaiki, ingin berhikmah, ingin bermanfaat. Kalau sumber perpecahan itu dibiarkan, bagaimana mau jadi satu,” katanya. [wir/kun]






