Surabaya (beritajatim.com) – Asian Champions League (ACL) dari segi tingkatan dapat dibilang setara dengan UEFA Champions League. AFC merupakan pertemuan antar klub di kawasan Asia. Namun miris jika melihat negara sendiri, Indonesia, dalam satu dekade terakhirnya klub Indonesia hampir tak pernah berkompetisi di ACL dan lebih sering bermain hanya bermain di AFC Cup. Mengapa demikian? Ini beberapa alasannya.
Juara liga Indonesia berhak untuk ikut dalam kompetisi Asia yaitu antara AFC Champions League atau AFC Cup dan sejauh ini wakil Indonesia lebih sering bergabung pada ajang AFC Cup.
Untuk turut serta pada ajang ACL, wakil Indonesia perlu mengikuti kualifikasi dari Preliminary round 1, dilanjut pada round 2 lalu mengikuti Play Off dan pasca itu apabila menang di Play Off barulah berhak untuk ikut dalam babak penyisihan grup ACL. Aturan ini terjadi karena AFC mempunyai aturan yaitu dengan membagi seluruh anggotanya ke dalam 2 wilayah, Barat dan Timur.
Negara-negara yang berada di peringkat 1-6 masing-masing wilayah, akan memiliki minimal 1 tempat bagi satu wakil di ajang Liga Champions Asia. Sementara itu, negara-negara yang berada di peringkat 6-12 di masing-masing wilayah, harus lebih dulu lewat fase kualifikasi sebelum masuk ke Liga Champions Asia.
Alasan wakil Indonesia dipersulit untuk ikut serta dalam ACL karena ranking liga Indonesia berada di 11 besar wilayah timur ini dilihat pada tahun 2020. Selain itu, di karenakan kompetisi Indonesia di periode 2015-2016 dan 2020-2021 sempat terhenti, itu juga membuat ranking liga Indonesia terus merosot. Bahkan, dalam AFC Club Competitions Ranking, AFC menghadiahi poin 0 untuk 2016 dan 2017.
[berita-terkait number=”3″ tag=”sepakbola”]
Adapun cara lain agar wakil Indonesia bisa langsung lolos ke babak penyisihan grup ACL, yaitu dengan menjadi kampiun di turnamen AFC CUP. Tahun 2022 ini mungkin saja ada sejarah baru, salah satu perwakilan Indonesia di AFC akan menjadi juara. Bisa jadi, dan mungkin saja terjadi. (dan/ian)






