Pasuruan (beritajatim.com) – Warga Pasuruan sudah dua tahun tak menggelar tradisi Praonan diakibatkan adanya pandemi Covid-19. Kali ini warga Pasuruan gelar tradisi Praonan untuk merayakan hari raya Ketupat pada, Senin (09/05/2022).
Terdapat tujuh titik kumpul penyelenggaraan tradisi Praonan di Kabupaten Pasuruan. Ketujuh titik kumpul tersebut berada di tiga Kecamatan, yakni Kecamatan Kraton, Kecamatan Lekok, dan Kecamatan Nguling.
Tak hanya di wilayah Kabupaten Pasuruan tradisi trrsebut juga diadakan di Kota Pasuruan, tepatnya pada Pelabuhan Kota Pasuruan. Pada setiap titiknya para nelayan menyiapkan perahu guna daisewakan ke warga yang ingin ikut serta dalam tradisi Praonan.
Muhammad Zidan (30), warga madura yang setiap tahun mengikuti tradisi tersebut mengaku bahagia. Ia rela datang ke saudara yang berada di Gadingrejo, Kota Pasuruan hanya untuk bersilaturahmi dan melakukan tradisi Praonan.
“Setiap tahun sama anak-anak selalu mengikuti tradisi Praonan ini. Kalau tahun kemarin dibatasi, alhamdulillah tahun ini sudah ramai kembali,” ujar Zidan.
[berita-terkait number=”4″ tag=”lebaran-ketupat”]
Zidan juga mengatakan bahwa tradisi Praonan ini juga bisa sebagai hiburan untuk melihat suasana laut kepada anaknya. Selain bisa menghibur Zidan juga mengaku senang karena tak membayar sewa perahu.
“Naik kapal gratis, kan kapalnya milik saudara. Hitung-hitung liburan juga dengan anak-anak,” ucapnya sambil tersenyum.
Sementara itu, tradisi praonan tersebut sudah digelar sejak dulu. Warga yang mayoritas nelayan sengaja libur di H+7 atau hari raya ketupat ini hanya untuk merayakan tradisi yang sudah digelar setiap tahunnya.
Nelayan yang menyewakan perahunya menarif setiap orang dengan harga Rp10 ribu. Setiap perahu berisi 8-10 orang, tergantung kapasitas perahu yang disediakan.
Ahmadi, sekdes Kalirejo mengatakan, tradisi praonan ini bermula saat warga sekitar melakukan silaturahmi layaknya hari raya idul fitri seperti biasanya. Namun, sejumlah sanak saudara yang ingin menaiki perahu diajak untuk melihat suasana laut Pasuruan.
“Lambat laun tambah ramai. Akhirnya, setiap tahun ada tradisi praonan ini,” katanya. (ada/ted)






