Jember (beritajatim.com) – Partai Gerindra akan mencalonkan kader sendiri dalam pemilihan gubernur Jawa Timur pada 2024. Partai berlambang kepala Garuda itu saat ini memiliki 15 kursi di DPRD Jawa Timur.
“Walau pilgub masih jauh, kami ingin mengusung kader, terutama kader di Jatim. Salah satu ukurannya kami melihat sisi elektabilitasnya apakah kader berpotensi menang dalam kontestasi tersebut,” kata Ketua Bidang Pemberdayaan Anggota Legislatif Daerah Dewan Pimpinan Pusat Partai Gerindra, Bambang Haryadi, Selasa (3/5/2022).
“Dalam politik, selama ada kader partai yang berpotensi, kenapa harus mengusung orang lain. Kami lihat sepuluh tahun terakhir, gerakan kader-kader Gerindra di bawah cukup bagus. Bahkan, beberapa waktu lalu, ada survei, kader Gerindra menjadi salah satu tokoh yang populis di Jatim,” kata Bambang.
“Kami bisa berkoalisi dengan partai lain untuk menyatukan misi dan visi Jatim ke depan agar lebih baik, dan tujuan besarnya memenangi kontestasi. Popularitas dan elektabilitas calon sangat dibutuhkan. Ketika kami punya kader potensial, sangat naif kalau tidak mencalonkannya ,” kata Bambang.
Menurut Bambang, banyak kader Gerindra di Jatim yang cukup populer. “Kami berharap melihat calon-calon itu melalui survei apakah benar memiliki elektabilitas yang kuat untuk dapat memenangi pilkada di Jatim,” katanya.
Salah satu nominator adalah Muhammad Fawait, legislator DPRD Jawa Timur dari Daerah Pemilihan Jember-Lumajang. “Fawait salah satu kader berpotensi untuk mengikuti kontestasi. Bahkan kami melakukan beberapa survei, ada beberapa kader yang memang masuk dalam nominasi atau radar DPP dalam penjaringan pilgub. Fawait masuk dalam radar DPP,” kata Bambang.
Rekam jejak perolehan suara Fawait memang cukup bagus. Dalam Pemilu 2019, ia adalah peraih suara terbanyak di DPRD Jatim dengan 228.229 dukungan pemilih. Jumlah suara terdekat di bawahnya adalah Aliyadi dari PKB yang meraup dukungan 221.264 suara di Daerah Pemilihan Pulau Madura.
Fawait yang lahir pada 1988 adalah santri KH Achmad Muzakki Syah, pengasuh Pondok Pesantren Al-qodiri di Jember. Semasa kuliah, Fawait menjadi pegiat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sebuah kelompok mahasiswa yang secara kultur tergolong moderat. Pemilu 2014 mengantarkan Fawait untuk pertama kali ke parlemen Jawa Timur.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pilgub-jatim-2024″]
Perolehan suara Fawait yang fenomenal dalam pemilu sempat dianalisis oleh doktor ilmu komuikasi Universitas Jember, Muhammad Iqbal, pada medio Mei 2019 silam. Menurutnya, rekam jejak Fawait terbaca jelas mengombinasikan antara jargon yang familiar khas budaya warga Jemberan dan Lumajangan. Fawait lalu menawarkan pilihan-pilihan kebijakan yang relevan dan signifikan dibutuhkan masyarakat.
“Masyarakat Pendalungan secara ritual dan kultural pada kenyataaannya meyakini salawatan sebagai rutinitas amalan modal jariyah dan ibadah meraih kemuliaan di mata Sang Maha Pencipta. Maka, gagasan slogan “Ojo Lali Moco Sholawat” menjadi pintu masuk yang pas mengakrabi “kebiasaan” atau habituasi masyarakat santri Jemberan dan Lumajangan,” kata Iqbal.
Selain itu, lanjut alumnus Universitas Airlangga Surabaya ini, pondasi perhatian moral kandidat dituntut tidak hanya berkampanye dengan ‘strategi memenangkan hati publik’, tapi sekaligus juga mampu ‘menenangkan hati publik’. “Pada pintu gagasan inilah Gus Fawait sering mendapat sambutan meriah dari setiap gelaran majelis sholawatan. Memenangkan apa yang jadi ‘kebiasaan’, sekaligus menenangkan hati salah satu basis besar kaum santri di Jawa Timur,” kata Iqbal.
Sementara itu, dari perspektif modal sosial, menurut Iqbal, kepercayaan adalah sendi dasar utama, baik dalam hubungan antarpersonal maupun kehidupan bermasyarakat. Mereka yang kehilangan kepercayaan akan sulit berhubungan satu sama lain. “Gus Fawait boleh saja menjadi teladan dalam merawat kepercayaan rakyat. Petahana wakil rakyat di DPRD Jatim ini, terbukti selain tak sekadar terpilih kembali sebagai Wakil Rakyat termuda, juga terpilih lantaran berkarakter ramah atau “grapyak” dengan rekor perolehan suara terbanyak,” katanya.
“Semua modal kepercayaan itu tentu saja bukan lahir tiba-tiba. Tapi hasil perjuangan sejak dipercaya jadi wakil rakyat di DPRD Jatim 2014 hingga terpilih kembali dalam Pileg 2019. Hasil dari kapasitas merawat budaya dan tabiat masyarakat santri asimilasi Jawa-Madura,” kata Iqbal. [wir/ted]
Daftar Perolehan Suara Tertinggi Pemilu 2019 untuk DPRD Jatim
Dapil 1: Armudji (PDIP) 136.308 suara,
Dapil 2: Anik Maslachah (PKB) 119.652 suara
Dapil 3: Aida Fitriati (PKB) 106.144 suara,
Dapil 4: Ma’mulah Harun (PKB) 118.003 suara,
Dapil 5: Mohammad Fawaid (Gerindra) 228.229 suara,
Dapil 6: Sri Untari (PDIP) 112.065 suara
Dapil 7: Bambang Rianto (Hanura) 88.415 suara
Dapil 8: Wara Sundari Renny Pramana (PDIP) 97.379 suara,
Dapil 9: Bambang Juwono (PDIP) 89.218 suara,
Dapil 10: Abdul Halim Iskandar (PKB) 106.662 suara,
Dapil 11: Ristu Nugroho (PDIP) 67.138 suara
Dapil 12: Khozanah Hidayati (PKB) 113.142 suara
Dapil 13: Makin Abbas (PKB) 135.769 suara,
Dapil 14: Aliyadi (PKB) 221.264 suara






