Jember (beritajatim.com) – Ketua DPRD Jember Itqon Syauqi teringat dengan artis Cinta Laura, dalam acara diskusi bertema Trilogi Ukhuwah sebagai Ibadah Merawat Persatuan Indonesia, yang digelar DPRD Provinsi Jawa Timur dan Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, di Hotel Meotel, Kabupaten Jember, Sabtu (16/4/2022) petang.
Trilogi ukhuwah, menurut Itqon, dikampanyekan oleh Rais Aam PBNU KH Achmad Siddiq bersama Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid saat proses penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal pada masa Orde Baru.
“Waktu itu beliau mengonsepsikan persaudaraan jadi trilogi ukhuwah. Ada ukhuwah islamiyah, ukhuwah wataniyah, dan ukhuwah basyariyah,” kata Itqon. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, trilogi itu adalah persaudaraan sesama muslim, persaudaraan sebangsa setanah air, dan persaudaraan sebagai sesama manusia.
“Saya masih ingat pada 22 September 2021, Cinta Laura diundang dalam acara Malam Peluncuran Aksi Moderasi Beragama. Yang mengundang Menteri Agama Gus Yaqut (Cholil Qoumas). Cinta Laura saat itu menyampaikan orasi singkat tapi sangat menggugah, sampai Gus Yaqut hampir mennangis mendengarnya,” kata Itqon.
Itqon mengatakan, pernyataan Cinta Laura penting disampaikan dalam konteks semangat kebangsaan. “Kata Cinta Laura, kita manusia yang finite (terbatas). Bagaimana mungkin bisa punya klaim pengakuan bahwa bisa menjangkau infinite, yaitu Tuhan yang Maha Esa. Kita terbatas, bagaimana mengatasnamakan Yang Maha Tidak Terbatas untuk tindakan kita,” katanya.
“Problem kebangsaan kita adalah banyak kalangan dari bangsa ini yang sering mengatasnamakan Tuhan demi kepentingan pribadi dan kelompok. Selama ini masih terjadi, maka jangan harap bangsa ini menjadi bangsa yang dihormati, toleran, dan kembali ke jati diri sebagai bangsa berpancasila dan berbhinneka tunggal ika,” kata Itqon.
[berita-terkait number=”4″ tag=”dprd-jember”]
Sementara itu, Ketua Fraksi PDI Perjuangan Edi Cahyo Purnomo yang juga menjadi narasumber, mengingatkan pentingnya persaudaraan sesama umat manusia. “Kita satu bapak dan ibu, Nabi Adam dan Siti Hawa. Ini tantangan bagi kita sebagai penerus bangsa bagaimana menjaga kerukunan dan harus dipertahankan sampai sekarang,” katanya.
Kuncinya adalah komunikasi, sebagaimana digagas Soekarno. “Kedepankan komunikasi. Bagaimana Bung Karno dulu turun ke daerah-daerah dan mengajak: kalau ingin merdeka ayo bersatu, jangan pandang perbedaan,” kata Purnomo. [wir/ted]






