Prabowo Subianto adalah orang yang paling gigih dalam pemilihan presiden. Tiga kali Ketua Umum Partai Gerindra ini mengikuti kontestasi pemilihan: menjadi calon wakil presiden mendampingi Megawati Sukarnoputri (2009), menjadi calon presiden didampingi Hatta Rajasa (2014), dan menjadi kandidat presiden didampingi Sandiaga Uno (2019).
Pada Pemilihan Presiden 2024, nama Prabowo kembali mengemuka menjadi salah satu kandidat presiden. “Ini kesempatan terakhir Prabowo dalam kontestasi. Apakah masyarakat menghendaki Prabowo, tentu belum bisa kita pastikan,” kata Muhammad Iqbal, pengajar ilmu komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Namun, Iqbal menilai Prabowo masih berpeluang menjadi capres. “Hasil sejumlah lembaga survei menempatkan elektabilitas Prabowo paling tinggi,” katanya.
Tiga kali kalah dalam perhelatan pilpres membuat Prabowo lebih berpengalaman menghadapi pemilihan presiden berikutnya. “Apalagi sekarang gizi politiknya cukup kuat, mengingat dia ada di kabinet,” kata Iqbal, mengapresiasi tekad Prabowo untuk kembali bersaing dalam kontestasi pilpres dengan diusung Gerindra.
“Pak Prabowo bisa dikategorikan menteri terbaik dalam hal kinerja dalam pemerintahan Pak Jokowi. Itu salah satu modal besar. Beliau bisa menunjukkan kepada rakyat, ditunjuk menjadi Menteri Pertahanan, Pak Prabowo bisa mengemban tugas dengan baik. Apalagi dimandati rakyat menjadi presiden,” kata Ketua Dewan Pimpinan Cabang Gerindra Jember Ahmad Halim, Jumat (11/2/2022).
Kendati memuncaki sejumlah survei dan diklaim sebagai menteri terbaik di kabinet Jokowi, Prabowo butuh kerja keras seluruh pendukung, terutama Gerindra, untuk mewujudkan mimpi menjadi presiden. Ia harus siap menghadapi sentimen opini publik, terutama dari basis massa yang pernah memilihnya dalam Pemilu 2019 yakni kelompok Islam ideologis. Keputusan Prabowo bergabung dengan kabinet Jokowi diperkirakan Iqbal akan membuat kepercayaan basis massa tersebut menurun drastis.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pilpres-2024”]
Bagaimana cara mengatasi sentimen ini? Iqbal mengatakan, tugas Kementerian Pertahanan di bawah Prabowo tidak lagi diartikan sempit sebagai pertahanan militer, namun juga ketahanan pangan. “Di situlah bentuk yang paling nyata yang bisa ditunjukkan kepada publik bagaimana kinerja Menteri Pertahanan Prabowo sudah sangat memadai. Kalau itu pun ternyata di kemudian hari bermasalah, tentu diskon elektoralnya juga akan makin besar,” katanya.
Sementara, pengamat politik dari Universitas Airlangga di Surabaya, Suko Widodo, menilai Prabowo lahir di zaman yang salah jika maju menjadi kandidat presiden. “Simbol militerismenya masih kental, dan itu tidak laku dalam komunikasi politik sekarang,” katanya.
Namun Prabowo bukannya tak punya kelebihan. “Dalam tradisi di Indonesia, orang yang gagah dan berbahasa Inggris bagus, cerdas, dapat perhatian publik. Dia mewakili anggapan bahwa leadership itu haruslah orang yang tegas, berwibawa. Dia dapat di situ,” kata Suko.
Suko memperkirakan pemilihan presiden mendatang akan menjadi pertempuran simbolik antara kewibawaan ala Prabowo melawan keakraban ala Ganjar Pranowo. “Ini kan seperti kasusnya Fauzi Bowo dan Jokowi dalam Pemilihan Gubernur DKI dulu. Fauzi Bowo mewakili gaya militer, dan Pak Jokowi mewakili kebanyakan orang.” katanya.
[berita-terkait number=”2″ tag=”prabowo-subianto”]
Jika tidak bisa memasarkan gaya kepemimpinan dan pendekatan komunikasinya ke masyarakat, menurut Suko, Prabowo harus bersiap gagal. Sejauh ini Prabowo baru mengandalkan Gerindra sebagai mesin partai. Dan Suko menilai, saat ini Gerindra masih belum bisa terlalu diandalkan. “Kalau partai mendukung Prabowo, apakah masyarakat mendukung? Anggota Dewan di lapangan juga mikir-mikir (untuk mengampanyekan Prabowo),” katanya.
Suko mengatakan, Prabowo harus sering turun menyapa masyarakat. “Selama ini dia hanya sibuk dengan masalah keamanan. Dia harus mengurangi tensi dan harus bisa mendekatkan diri dengan program-program kerakyatan itu. Dia seharusnya membangun gagasan ke masyarakat,” katanya.
“Kalau seorang calon presiden punya politik gagasan yang cocok di zamannya dan cocok dengan masyarakat, dia berpeluang dapat dukungan. Politik pencitraan sudah selesai. Yang mudah mematahkan adalah politik gagasan,” kata Suko. [wir/suf]






